“Allah yang hidup, tetap sama: dahulu, kini, dan selamanya tidak berubah.”
Yesus mengajar di Bait Allah, tempatnya megah, pusat kebanggaan Israel, tanda bahwa Allah memilih mereka sebagai umat-Nya. Justru di tempat begitu suci, Yesus berkata, “Tidak satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain.” Ucapan itu mengguncang hati pendengarnya, karena yang runtuh bukan hanya bangunan, tapi sumber rasa aman yang palsu.
Yesus sedang membuka mata kami:
untuk tidak membangun iman di atas sistem, tempat, atau kebiasaan yang bisa runtuh kapan saja. Bangunan bisa hancur. Tradisi bisa berubah. Pola hidup bisa bergeser. Tapi Allah yang hidup, tetap sama: dahulu, kini dan selamanya tidak berubah.
Seperti seruan Nabi Yeremia, Allah tidak mencari umat yang hanya datang ke Bait Allah; Ia mencari hati yang datang kepada-Nya. Kini, Ia menghadirkan tempat ibadah yang sejati: Yesus sendiri, di mana kemanusiaan dan keilahian bertemu, sehingga kami boleh bersatu dengan-Nya.
Yesus berbicara tentang gempa, kelaparan, perang, dan penganiayaan: hal-hal yang mengingatkan kami, bahwa dunia ini tidak stabil. Apa pun yang kami andalkan: kesehatan, kedamaian, kekuatan ekonomi, rasa aman itu semuanya bisa berubah dalam sekejap. Tapi Allah mengajar kami, bahwa “Yang kekal hanyalah Dia.”
Kami hidup di antara dua kedatangan Kristus:
– kedatangan pertama yang membuka jalan keselamatan,
– dan kedatangan terakhir yang akan menggenapi segalanya.
Allah mengingatkan kami agar tidak tertipu oleh suara-suara ekstrem, ketakutan palsu, atau keyakinan, bahwa “sudah tiba waktunya.”
Dalam sejarah Gereja awali, tanda-tanda yang Yesus sebutkan sudah terjadi: kelaparan, gempa, kehancuran Bait Allah tahun 70, penganiayaan para Rasul. Semua itu bukan sekadar sejarah, tapi ‘pola hidup Gereja’, termasuk Gereja hari ini. Gereja-Nya selalu jadi sasaran dunia, karena Gereja membawa terang yang mengusik kegelapan.
Namun Allah juga memberi janji:
“Aku sendiri akan memberikan kepadamu kata-kata hikmat.”
Allah tidak menjanjikan jalan yang mudah, tapi Ia menjanjikan pendampingan, hikmat, dan keteguhan yang dunia tidak bisa mengalahkan.
Karena itu ajar kami, ya, Tuhan:
- untuk hidup tidak melekat pada dunia yang akan berlalu,
- untuk menatap Yesus, Sang Matahari Keadilan yang menyembuhkan,
- untuk bertekun seperti para Rasul, bahkan saat kami disalahpahami, ditolak, atau ditentang,
- untuk menyanyi bersama Pemazmur, memuji Yesus yang datang sebagai Hakim yang adil dan Raja yang setia.
Dalam Ekaristi, kami menyentuh misteri itu: Hari Tuhan yang telah datang, dan sekaligus Hari Tuhan yang masih akan datang. Di altar, Kristus hadir sebagai Anak Domba dan Raja Semesta. Setiap Ekaristi adalah sebuah perjumpaan sejati dengan Tuhan, sekaligus janji: Ia akan datang kembali dengan kemuliaan.
Ya, Allah, jauhkan kami dari rasa aman palsu yang dibangun oleh uang, status, kenyamanan, atau pencapaian. Kami memilih untuk menaruh keamanan hanya pada-Mu. Dengan Gereja sepanjang abad kami berdoa:
“Marana tha. Datanglah, Tuhan Yesus.”
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

