“Orang yang tidak (bisa) puas dengan apa yang dimiliki – tidak akan pernah puas dengan apa pun. (Aristoteles)
…
| Red-Joss.com | Rasa tidak puas itu terjadi, karena terlalu sering melihat orang lain yang hidupnya terlihat lebih baik dari dia. Sehingga memunculkan rasa iri dan bisa berdampak pada ketidakpuasan. Berharap bisa lebih dari orang yang terlihat lebih baik itu, lebih cantik, kaya, dan lebih bahagia.
Seorang ilmuwan Inggris, James Lovelock berteori, bahwa manusia modern masih mewarisi pola pikir purba yang ingin berkuasa dan utamakan kepuasan anggota sukunya semata. Sehingga tidak peka terhadap kepentingan yang sifatnya lebih besar.
Rasa ingin berkuasa terhadap orang lain, akan situasi tertentu itu membuat kita tidak mudah puas. Ketidakpuasan kemudian mengakar di kehidupan kita. Turun temurun dari generasi ke generasi, ketidakpuasan menjadi kebiasaan dan lama-kelamaan jadi kebutuhan. Kita seolah butuh merasa tidak puas agar bisa memperlihatkan peningkatan hidup. Selama kita masih bermukim dengan manusia lainnya, kebisingan akan rasa tidak puas itu pasti akan tetap hidup dalam benak. Bahkan terkadang menjadi motivasi untuk bertahan hidup. Faktanya memang lebih banyak orang yang belum dapat menguasai ilmu penerimaan diri. Sehingga akan sulit baginya untuk juga menerima orang lain dengan keadaannya.
Kelemahan dalam penguasaan ilmu menguasai diri itu justru sering nampak dalam diri mereka yang mengajarkan ilmu menguasai diri, bahkan lewat pilihan hidupnya.
Sehingga memunculkan pertanyaan berikut: Mungkinkah kita sibuk dengan segala jenis pelayanan, karena lebih didorong rasa tidak puas, dan ingin lebih baik dari orang lain. Atau karena untuk lebih menyenangkan Tuhan?
Salam sehat selalu.
…
Jlitheng

