Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Jika aku keliru, maka aku ada.”
(Si enim fallor, sum)
Santo Agustinus
…
| Red-Joss.com | Manusia, oh sang manusia! Engkaulah corona atau mahkota segala ciptaan. Bahkan, secara biblis, engkau diciptakan secitra Sang Allah.
Ada kisah kuno, bahwa sang manusia itu, makhluk yang terpental dari langit ke gurun bumi dengan tanpa persetujuannya. Di sana, di atas gurun itu, sang manusia pun terlunta tertatih mencari rezeki sambil dengan nada pilu meratapi nasib sialnya.
Bahkan di tengah keberadaannya, dia pun seolah masih ragu dan mempertanyakan eksistensinya di bumi maya ini. “Manusia, siapakah engkau. Dari mana dan hendak ke manakah engkau?”
Tulisan ini, berupa sebuah refleksi kemanusiaan. Kita diajak untuk merenungkan keterbatasan kita sebagai manusia.
Sekalipun demikian, ada sisi-sisi khas manusia yang sangat dikenang para filsuf dunia. Seperti, filsuf John Dewey, bahwa ‘manusia itu makhluk sosial, sehingga seluruh tindakannya, baik dan buruk akan dinilai masyarakatnya.
Sang Aristoteles pun menjuluki sang manusia itu sebagai, ‘zoo politicon‘ makhluk yang pandai berelasi serta doyan berkumpul.
Bahkan para filsuf juga merefleksikan sejumlah kekhasan sang manusia, walaupun dia sebagai makhluk yang serba terbatas itu.
Julukan-julukan itu, antara lain: manusia yang suka bermain, sebagai ‘homo ludensโ. Manusia yang bernaluri ekonomis, ‘homo economicusโ. Manusia yang giat bekerja, ‘homo faberโ. Manusia selaku peziarah di bumi, ‘homo viatorโ. Serta sang manusia, makhluk yang mau terus belajar dan berpengetahuan, ‘homo sapiensโ.
Sebagai manusia, kita menyadari keterbatasan ini, sehingga harus terus belajar.
Bertolak dari keyakinan teguh, bahwa kita justru dicinta dan dimuliakan Sang Tuhan, maka keterbatasan ini pun bertujuan mulia sesuai rencana Sang Pencipta kita. Sesungguhnya, kehidupan di atas bumi maya ini, sekadar singgah mengaso.
Mari kita sadari keterbatasan kita. Hidup selaku seorang tamu di sebuah kedai kehidupan agar kita berlaku rendah hati, jujur, dan tulus.
Selalu ingatlah, wahai sang manusia, ‘homines sumus, non dei’ kita ini manusia biasa, bukan dewa.
Kenyataan ini akan berwujud lewat gerbang kematian, sebagai tanda keterbatasa kita. Itulah sebuah masa depan yang tak pernah ingkar janji.
…
Kediri, 29 Juni 2023
…
Foto Ilustrasi: Istimewa

