Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Kita tidak dapat mengubah dunia, tapi kita dapat mengubah cara kita melihat dunia”
(Sang Buddha)
Kegelisahan Manusia ibarat Sayap-sayap Kehidupan
Kehidupan manusia tidak pernah terlepas dari rasa gelisah. Karena kegelisahan itu adalah bagian yang tak terpisah dari kehidupan riil kita. Kita gelisah, karena alasan apa saja. Antara lain, gelisah akan masa depan, nasib hidup, dan bahkan sering kali kita gelisah akan suatu hal yang sebetulnya tidak ada dan tidak bisa dipastikan dalam hidup kita.
Kegelisahan itu sering diibaratkan sebagai sayap-sayap hidup yang tidak terpisahkan dari totalitas realitas kehidupan kita.
Di sisi yang lain, kegelisahan itu dapat disebabkan antara lain: rasa cemas berlebihan, kehilangan, frustrasi, stres berat, juga karena suatu ketakpastian di dalam hidup kita.
Kegelisahan sebagai Sebuah Motivasi Hidup
Sejujurnya manusia itu butuh rasa gelisah yang wajar sesuai dengan naluri kemanusiaan kita. Mengapa demikian? Kegelisahan itu adalah suatu perasaan yang sangat alamiah dan manusiawi. Dalam konteks ini, alangkah baiknya, kita dapat merasa gelisah. Jika kita mampu mengolahnya dengan tepat, rasa gelisah itu dapat berubah jadi sebuah kedamaian. Dari sisi yang lain, secara rohani dan psikologis, rasa gelisah itu bahkan sebagai sebuah sarana pengontrolan kesadaran diri sebagai suatu proses pemurnian dan pembersihan (katarsis) nurani manusia.
Kegelisahan dapat Merugikan Manusia
Ada sepenggal seruan dari Sang Kebijaksanaan sejati, “Janganlah gelisah hatimu, percayalah kepada Allah dan juga kepada-Ku, karena di Rumah Bapak-Ku ada banyak tempat tinggal.”
Seruan kebenaran yang telah berusia lebih dari dua ribu (2000) tahun ini secara nurani, jika kita sungguh percaya dan memaknai dengan benar, justru dapat mendatangkan ‘rasa damai dan ketenteraman’ secara rohani di dalam batin manusia.
Untuk itu, tentu sangat dibutuhkan kemampuan manusia, agar ia dapat mengolah rasa cemas itu secara dewasa dan bijaksana. Karena Sang Kebijaksanaan pun tidak menghendaki kita untuk hidup di dalam kegelisahan. Maka, hanya ada sebuah syarat penting, agar manusia sungguh percaya kepada kebenaran sesuai amanat Sang Kebijaksanaan.
Refleksi
- “Barang siapa dapat membangun kediaman nuraninya di atas karang padas, maka akan tenteramlah jiwanya!”
- “Aku akan setia menyertaimu hingga akhir zaman.”
Untuk itu, sekali lagi Aku tegaskan kepadamu, “Janganlah gelisah hatimu!”
Kediri, 16 November 2O25

