Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
Sang filsuf Blaise Pascal, berujar, “Sesungguhnya, manusia ini tidak bahagia, karena mereka tidak bisa tinggal diam sendirian di kamarnya.”
Manusia memang selalu ingin berada dalam keramaian, walaupun keramaian itu tak memberinya tempat dan kemungkinan untuk menukik ke dalam kediriannya yang terdalam.
Kendati demikian, manusia selalu terdorong untuk kembali kepada kesendirian dan kediriannya.
Ada empat orang pernah terjebak dalam terowongan gelap. Spontan keempat orang itu mereaksi atas sikon itu.
Yang seorang dalam kecemasan, berusaha mati-matian untuk ke luar dari kegelapan dengan berlarian kian kemari mencari lubang agar segera bisa ke luar.
Yang seorang, justru santai saja, bahkan sambil menyandarkan tubuhnya, ia bernyanyi seolah tidak terjadi sesuatu.
Yang seorang lagi, justru tidur dengan nyenyak dan bahkan mengorok.
Sementara itu, orang keempat mengatupkan bola matanya sambil berkomat-kamit berdoa agar segera ke luar dari kegelapan itu.
Itulah fakta reaksi spontan manusia kala menghadapi suatu masalah.
Sesungguhnya, inilah yang terjadi dalam keseharian manusia. Aneh? Tidak! Berbeda? Ya, berbeda!
Di sini, dipertontonkan, bahwa memang manusia itu makhluk personal, individual yang tidak membutuhkan ulurang tangan orang lain.
Yang mengusik nurani saya, justru mengapa keempatnya tidak berusaha untuk menggalang kekuatan bersama dan mencari solusi bersama.
Mengapa mereka justru hanya berupaya sesuai pandangannya sendiri.
Dalam konteks ini, manusia itu sesungguhnya hanya mau mengabarkan kepada semesta, bahwa dia makhluk personal yang bebas menentukan sikap dalam kondisi apa pun.
Jika memang demikian, kesendirian adalah saat paling nyaman bagi manusia.
Seolah manusia itu mau mewartakan, bahwa, tatkala datang dari rahim Bunda, aku toh sendirian, dan kelak kembali ke rahim bumi, aku juga sendirian.
Kediri, 19 Desember 2024

