Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Betapa pun canggihnya seperangkat robot, namun ia tak secanggih makhluk manusia.”
(Didaktika Hidup Sadar)
Manusia: Mahkota dari segala Ciptaan
Sesungguhnya, tidak ada ciptaan Tuhan yang semulia dan seagung makhluk manusia. Karena bukankah manusia adalah satu-satunya, makhluk yang dilengkapi dengan akal budi dan bahasa yang sempurna? Maka, manusia digelari sebagai ‘mahkota dari segala ciptaan.’
Tulisan reflektif ini terinspirasi oleh tulisan saudara Kosmantono, Purwokerto, dalam kolom Surat Pembaca, Kompas, Senin, (3/11/2025), berjudul “Hidup seperti Robot.”
Spirit dari Tulisan Konrad
Seorang remaja, Konrad Ruben Sachi Pratama lewat tulisannya berjudul “Pergerakan Siswa,” berpendapat, bahwa manusia kini telah dijajah oleh sistem, karena mereka disuruh untuk:
- Patuh tanpa berpikir. Mereka didikte untuk hidup tanpa tujuan, tapi harus patuh pada sebuah sistem. Dampaknya, bahwa hidup mereka pun kosong dan tanpa arah.
- Hidup di zaman yang serba refresif, karena remaja dilarang untuk membuka mulut. Maka, hadirlah remaja ‘burung beo’ yang patuh, karena dilarang untuk berpikir kritis.
- Menurutnya, bukankah di saat ini remaja hanya dijejali oleh materi hampa di sepanjang hari? Hal ini terbukti, ketika Anda menyaksikan lewat sebuah pemandangan umum, bahwa anak sekolah di Indonesia memikul beban berat dengan ransel di punggungnya?
- Para guru mereka pun seketika telah berubah jadi seperangkat ‘robot bodoh’ yang mengajar tanpa roh dan anti pengembangan materi sesuai realitas zaman.
- Kosmantono berpendapat, bahwa tulisan Konrad ini telah mewakili keresahan remaja kita. Mereka merasa, ketika mereka mandul dalam bersikap kritis, maka sirnalah kemampuan mereka untuk menganalisis sebuah problema dari kehidupan nyata.
- Akhirnya, dalam nada yang seolah sedang berdoa, Kosmantono mengharapkan, agar kian banyak generasi muda kita yang berani tampil seperti Konrad dalam menyongsong Indonesia Emas.
Sistem Pendidikan yang Membelenggu
Sistem Pendidikan di negeri kita ibarat ‘telah jatuh, ditimpa tangga pula,’ karena para politisi dan pemerintah ikut mendikte sistem pendidikan kita. Mereka bertindak sebagai dalang yang memaknakan sistem pendidikan laksana robot yang kaku dan mati serta digiring demi memuluskan niat dan keinginan politik mereka. Jadi, sistem pendidikan kita, kini justru telah dikebiri oleh para politikus busuk yang berhati iblis.
Ranah dan arah pendidikan kita telah ditarik secara paksa serta sepihak sesuai hasrat politik mereka. Hasilnya, bahwa ranah pendidikan kita hanya berorientasi ke hal-hal yang serba fisik dan materi belaka.
Tak pelak, lahirlah sebuah generasi yang bertindak dan bersikap laksana seperangkat robot, karena tanpa roh serta spiritualitas hidup.
Dalam konteks ini, mereka justru telah menggiring dan mematikan etika serta spirit dasar dari roh pendidikan, yakni ‘homo humanus,’ artinya jadi ‘manusia yang kian manusiawi’ alias manusia yang berbudaya.
Refleksi
Ketika sistem pendidikan kita telah memaksa manusia untuk jadi seperangkat robot, maka akan hadirlah sejenis ‘manusia robot.’
Yakni berupa seperangkat peralatan yang kaku dan mati serta tanpa roh.
Kediri, 4 November 2025

