Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
| Red-Joss.com | Kita, sang manusia ini sesungguhnya, hanyalah selembar catatan. Catatan tentang apa? Siapa pencatatnya? Apa isi catatan itu?
Mengacu pada pendekatan ilmu pendidikan, teori “Tabula Rasa,” dicetus oleh John Locke (1692), bahwa ketika sang manusia itu dilahirkan, ia ibarat selembar kertas putih, kosong, dan bersih.
Saat sang manusia itu dilahirkan, ia tidak memiliki โisi mental bawaanโ. Ia kosong seluruhnya.
Kelak, seluruh sumber pengetahuan diperoleh sedikit demi sedikit melalui pengalaman dan persepsi alat indranya terhadap dunia luar.
Mengapa Anda dan saya hanya menjadi seperti ini? Mengapa kita tidak menjadi orang hebat yang sangat berbakat?
Kini, mungkin kita merasa kecewa kepada orangtua, masa lalu yang kurang beruntung, atau karena kita lahir di kampung udik. Bahkan mungkin juga kita kecewa, karena tidak mendapatkan layanan edukasi yang memadai, sehingga tidak mampu meraih gelar kesarjanaan.
Meratapi masa lalu sambil mengutuk semua kenyataannya adalah sebuah ratapan tanpa dasar dan salah alamat. Karena tidak ada faktor kesengajaan di dalam proses pembentukan kita di masa lalu.
Kita ini sungguh merupakan selembar catatan. Catatan tentang masa lalu saat mendapat sentuhan dari orangtua, para guru, serta masyarakat. Juga catatan berisi suka duka dalam ziarah hidup ini.
Sesungguhnya kita adalah sang penulis catatan itu. Sedang orangtua, para guru, dan lingkungan turut berperan dalam membentuk kita.
Dalam seluruh proses pembentukan pribadi dan jati diri, apa reaksi dan tanggapan kita atas seluruh realitas ini? Di bidang edukasi? Di bidang karya serta hidup keluarga? Semua itu sangat bergantung dari tanggapan serta persepsi positif kita.
Semoga Anda dan saya, menjadi lembaran putih berisi catatan bermakna!
…
Kediri, 28 Juni 2023

