“Ketika perkaya diri dengan cara memancing di air keruh, sejatinya kita makin keruhkan rezeki sendiri.” –Mas Redjo
Tidak harus merasa hebat, ketika kita piawai memanfaatkan situasi yang sulit itu untuk menangguk keuntungan yang fantasis.
Tidak harus menepuk dada agar tidak terluka dalam sendiri. Apalagi, ketika hilang rasa kepedulian kita pada sesama, sehingga luka nan perih itu menusuk relung jiwa.
Bukan penyesalan itu selalu datang belakangan, melainkan kita diajak dan diingatkan agar berpikir jernih sebelum bertindak. Ketimbang kita ditegur si Empunya hidup, dan sakitnya tak terperikan.
Peristiwa pedih nyeri itu terjadi dan dialami TH, ketika ia melihat kenyataan pahit itu. Anak gadisnya yang usianya belum genap delapan tahun itu harus menjalani cuci darah, karena ginjalnya bermasalah!
Gara-gara ingin menyenangkan anak, hilang rasa kepedulian itu. Banyak di antara kita memanjakan anak dengan pola makan dan minum yang tidak sehat, karena ingin yang serba instan, praktis, dan enak. Kita tidak sadar memelihara dan mengembangbiakkan aneka kuman penyakit itu di dalam tubuh anak atau diri sendiri.
Terpampang jelas dalam ingatan TH, ketika menangguk keuntungan fantastis di masa awal pandemi covid itu. Ia menjual masker dengan harga berlipat dan laris manis, karena diburu orang. Sehingga ia untung besar.
Ia dipuji banyak orang, karena kecerdikannya memanfaatkan peluang itu. Sedang orang yang menghujat, ia mencari untung di atas penderitaan orang itu adalah iri hati dengan kesuksesannya!
Kini, ketika ia menghadapi realita, anak gadisnya yang tergolek lemah tidak berdaya dan harus cuci darah itu membuat hatinya nyeri didera penyesalan.
Ia memejamkan mata. Karena ia yang menanam di atas penderitaan orang lain, anaknya yang memanen dari perbuatannya.
“Tuhan, mohon ampunan dan belas kasih-Mu untuk kesembuhan untuk Nanda…,” bisiknya lirih.
“Nduk, ampuni Bapak yang khilaf ini.”
Ia menggigit bibir bagian bawah hingga perih, seperih penyesalannya.
Mas Redjo

