Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
Keaslian
Sang Guru tidak pernah terkesan oleh ijazah dan gelar. Ia meneliti pribadi orang, bukan dari tanda tamat belajar.
Sekali terdengar ia berkata, “Jika engkau punya telinga bisa mendengar burung berkicau, engkau tidak perlu melihat surat kepercayaannya.”
(Anthony de Mello, SJ., Sejenak Bijak)
…
Red-Joss.com | Saat tulisan ini penulis turunkan, iklim bangsa kita tengah lebat dihujani kegaduhan besar. Ada pelapor yang mengadu, bahwa sang presiden kita, Jokowi “berijazah palsu.”
Tidak kurang dari tokoh, Bambang Tri, Sugik Nur, serta sang pembela hukum, Egi Sujana tampil dengan sikap kelewat cerewet. Mereka mengadu ke pengadilan, bahwa sang presiden kita itu, berijazah palsu.
Berminggu dan bahkan berbulan gelar sidang perkara terbuka pun ditayangkan dengan melibatkan banyak saksi.
Keaslian atau otentika adalah suatu takaran “nilai” utama dan penting untuk kita miliki di dalam hidup bermasyarakat dan bernegara.
Hal itu, menunjukan suatu “kualitas tertentu,” baik itu gelar, ijazah, emas, atau merek suatu produk, dan lain-lain.
Tetapi kadang kala, kita pun selalu terjebak di dalam sikap โover actionโ, atau secara berlebihan “memperjualbelikannya,” sekadar adu gengsi atau pun sekadar gara-gara. Kita pun terjebak untuk mengukur dan menilai orang hanya berdasarkan suatu penilaian murahan.
Masyarakat kita cenderung terjebak untuk berani serta gampang mengukur dan menilai orang, kadang-kadang hanya berdasarkan selembar kertas ijazah, gelar, serta kepangkatan, misalnya.
“Mana emas dan mana loyang,” ini ungkapan nenek moyang kita. Untuk mengetahui kualitasnya, maka diperlukan suatu proses pengujian dengan api.
Di dalam puisi berjudul “Keaslian,” di atas, sang Guru hebat itu, justru tidak terkesan oleh ijazah atau pun gelar yang diraih seseorang. Maka, beliau pun menambahkan, jika engkau mendengar merdunya seekor burung berkicau, jangan kau tanyakan apa ijazahnya.
Saudaraku, janganlah sekali-kali engkau mau mengukur “kualitas” kehebatan serta kemampuan seseorang, hanya berdasarkan ijazah atau pun gelarnya.
Jika demikian, Anda telah terjebak oleh naluri persaingan kebinatangan yang tidak sehat. Karena sesungguhnya, sebuah keaslian, toh akan tetap asli, dan sebuah kepalsuan, pun akan tetap palsu.
Kebenaran sejati, hanya “melekat erat serta utuh menyatu” dengan suatu keaslian. Sedangkan, suatu kebohongan atau pun kepalsuan (imitasi), akan “tetap sebagai suatu kepalsuan.”
Anda, saya, atau kita, mau memilih yang mana? Sekeping emas ataukah semelompong loyang?
…
Kediri,ย 25ย Maretย 2023

