Oleh Fr. M. Christoforus, BHK
Red-Joss.com | “Antara miris, sedih, dan prihatin. Mau jadi apa mereka kelak, masih ABG sudah seperti itu? Bayangkan kesedihan orangtua korban yang kehilangan buah hatinya.”
Itulah pernyataan sang penulis di kolom Surat Pembaca, atas nama Saudara Albertus Suritno, jalan Bunyu, Jakarta 13240 (Kompas, Rabu, 5/4/2023).
Mari Saudara, cermatilah potret kontradiktif dari kisah sedih berikut ini!
Sang janda miskin, Siu Lan mempunyai anak berusia 7 tahun, bernama Lie Mei. Karena miskin, maka sang anak tidak bersekolah.
Sehari-hari ia menjual kue buatan Ibunya.
Naas, di suatu hari, sang Ibu memohon anaknya agar menunggunya di rumah, karena sang Ibu ke pasar membeli untuk keranjang kue.
Setiba di rumah, alangkah kecewa sang Ibu, karena putrinya justru tidak berada di rumah yang memang tidak dikunci. Dia sibuk dan marah, karena putrinya diduga sedang pesiar ke kota.
Ternyata Saudara, putri kecil itu, kini tergeletak di belakang pintu dan sudah tidak bernyawa!
Diguncangnya tubuh sang anak sambil meratap.
Saat itu, terjatuh dari tangan sang anak sebuah bungkusan kecil. Saat dibuka, ooooh, terjatuhlah sepotong kue kecil. Di situ tertulis sebuah kalimat, “Mama pasti lupa, ini hari istimewa bagi Mama. Aku membeli biskuit kecil ini untuk Mama, tapi uangku tidak cukup untuk membeli biskuit yang lebih besar. Mamaku, selamat ulang tahunmu.”
Saudaraku, saya akan meneruskan sejumlah alasan dari tulisan Saudara Albertus Suritno, ‘mengapa ABG kita kini ternyata sangat brutal.’
Menurut beliau, Alasan pertama, โTidak ada lagi komunikasi antara anak dengan orang tua. Mereka sibuk ber’gadget’ria.โ
Alasan kedua, โHedonisme, kenikmatan materi. Ortu menganggap, asal dilengkapi materi, itu sudah cukup bagi anak.โ
Alasan ketiga, โTidak ada lagi pendidikan budi pekerti. Etika hidup telah mati di dalam keluarga.โ
Alasan keempat, โTidak ada lagi โshock therapyโ agar si anak dapat jera.โ
Alasan kelima, โSirnanya suri teladan serta sikap arogan dari sang orangtua.โ
Saudaraku, ada sederet ‘litani’ dari seorang warga kita seperti yang tertulis di atas.
Mari, para saudaraku, kita segera bergegas ke dalam dapur keluarga masing-masing. Renungkan sejenak, apa yang ternyata telah sirna dari dapur keluarga kitaโฆ
Kata orang Latin, “Bona Culina, Bona Disciplina,” hanya dari “dapur yang baik, datangnya sang kedisiplinan sejati!”
…
Kediri,ย 5ย Aprilย 2023

