Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Ketika sang maling pun berteriak maling.”
(Peribahasa)
…
| Red-Joss.com | Saya sempat mendengar sebuah sebuah teriakan nyeleneh dari Komentator dalam sebuah ajang kampanye akbar partai politik.
Setelah dua orang petinggi partai politik membunyikan kentongan, serentak terdengar seruan nyeleneh, “Dalam budaya Jawa, biasanya, kentongan dibunyikan, jika ada maling.”
Kemudian, seruan itu disambung oleh si Komentator itu sendiri, “Ya memang, kini pun ada maling demokrasi.”
โMaling, oh, Sang Maling!โ
Ada pun kata maling, dalam bahasa Jawa, “amal dieleng-eleng” alias diingat-ingat.
Jadi, maling itu orang yang mengingat-ingat harta orang lain yang kelak timbul selera.
Di dalam KBBI, yaitu orang yang mengambil milik orang lain secara sembunyi-sembunyi, alias pencuri.
Pada dasarnya, kata maling itu, memang berkonotasi negatif. Mengapa? Karena di dalamnya mengandung pengertian mengambil milik orang lain, alias mencuri.
Maling, ya, selalu hadir dan ada di dalam sejarah peradaban umat manusia. Bahkan kini ada dan sedang bergentayangan di mana-mana.
Ada maling harta, yang disebut pencuri harta.
Ada maling kuasa, yang bertindak merebut kuasa secara paksa, disebut kudeta.
Ada maling demokrasi, yang modus operandinya, mencederai sistem berdemokrasi yang sehat, dengan cara mengobok-obok sistem berdemokrasi itu demi melanggengkan kuasanya.
Ada maling ilmiah, alias mencuri karya ilmiah orang lain dan dijadikan sebagai karyanya sendiri, yang disebut plagiator.
Ada maling konsep gagasan brilian orang lain dan dijadikan sebagai gagasan otentiknya sendiri, yang disebut sang penjiplak.
Ternyata sungguh mengerikan cengkeraman kuku-kuku tajam maling itu di dalam hidup kita.
Hidup ini telah dijadikan kacau serta berantakan oleh cakar-cakar buas maling laknat itu.
Apakah Anda dan saya pun si maling laknat itu?
…
Kediri,ย 9ย Februariย 2024

