Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Sebuah lukisan adalah perpaduan antara coret moret dan tata warna yang penuh makna.”
(Didaktika Seni Hidup)
Alam Semesta Tanda Kehadiran Tuhan
Secara rohani dan spiritual “penampakkan serta eksistensi dari alam semesta” ini, bukankah sebagai tanda ekspresif dari kehadiran Sang Tuhan, selaku Seniman Sejati? Sejatinya, jika Anda ingin menyaksikan keagungan dan kebesaran Tuhan, maka tatapilah seluruh realitas keberadaan dari alam semesta ini! Artinya Sang Tuhan hadir dan ada lewat seluruh realitas alam semesta ini.
Lukisan Tangan Seorang Anak
Seorang anak kecil berusia lima tahun, tampak sangat asyik melukis sebuah pemandangan alam di dinding rumahnya. Telah cukup lama, ia menyendiri di sana sambil jemari mungilnya mencoret-coret dan membentuk sebuah lukisan pemandangan alam.
Sementara jemari mungilnya lincah bergerak, mulutnya turut berkomat-kamit. Ia seolah-olah sedang berbicara dengan seseorang. Ternyata, sambil jemarinya asyik melukis, bibir mungilnya itu turut berkisah tentang arti dan makna dari lukisan tangannya itu.
Lukisannya itu berupa sebuah pemandangan alam pantai dengan berlatar belakang perbukitan nan hijau. Sementara itu, di atas awan-awan tampak matahari besar yang sedang memancarkan sinarnya. Tampak pula dua ekor burung yang sedang asyik terbang. Sedang di atas laut itu terdapat sebuah perahu mungil yang sedang berlayar. Di sudut lukisannya, tampak dua batang pohon kelapa yang pelepahnya seolah sedang bergerak ditiup angin.
Menyaksikan sebuah lukisan tangan yang sangat menarik itu, Kakeknya datang mendekat, lalu bertanya, “Cucuku, lukisan apa ini? Apa pula artinya? Bisakah engkau ceritakan kepadaku?”
Sang Cucu itu terkejut dan menoleh ke arah suara Kakek. “Oh, ya, Kek. Aku melukis sebuah pemandangan alam pantai dan perbukitan di kampung kita.”
“Di manakah rumah Kakekmu? Di mana pula rumah Ayah dan Ibumu?” tanya sang Kakek.
“Oh, ya, rumah Kakek dan rumahku, berada di balik pohon-pohon kelapa ini. Mereka tersembunyi di balik pohon-pohon,” sahut sang Cucu
Selanjutnya Cucu itu mulai berkisah, sambil jemari mungilnya bergerak dan menunjuk, “Di sini ada air laut, dan di dalamnya ada banyak ikan dan siput. Di atas bukit-bukit sana, ada rumput, pohon mangga, dan juga jambu air. Sedangkan di atas langit itu ada matahari yang sedang bersinar dan ada juga dua ekor burung yang sedang asyik terbang. Mereka sedang mencari makanan.”
Mendengar tuturan cerdas sang Cucu, maka Kakek itu manggut-manggut kagum atas penjelasan yang sangat detail dan logis itu.
“Cucuku, sungguh pintar kamu. Dari mana kamu ketahui semua hal itu?”
“Dari Kakek dan Nenek. Juga dari Ayah dan Bunda,” sahutnya gembira.
Dengan perlahan, tapi pasti, Kakek itu berucap, “Laut yang sedang bergelora itu, Cucuku, tempat kamu akan berjuang melawan kepahitan hidupmu kelak. Perahu yang sedang berlayar itu, adalah engkau sendiri.” Sang Cucu itu tertegun. Ia merasa terharu atas ulasan Kakeknya.
“Perbukitan itu, adalah simbol anak tangga perjuanganmu untuk menaikinya, hingga engkau dapat mencapai puncaknya. Hanya dari atas bukit hijau itu, engkau akan lebih jelas memandangi matahari. Itulah tanda kesuksesanmu.”
“Matahari itu adalah sumber cahaya bagi hidupmu. Dialah Sang Pemberi cahaya bagi langkah hidupmu. Itulah simbol suci sebagai Tuhanmu.”
Mendengar ulasan Kakeknya, bola mata Cucu itu tampak berkaca-kaca, karena saking terharu.
Hukum Kehidupan
Sang Cucu itu adalah penerus garis keturunan dari Kakek dan Neneknya. Berdasarkan unsur genetika dan faktor hereditas secara biologis, maka garis keturunan itu akan tersambung secara turun-temurun.
Sebuah warisan akan diterima oleh Cucu sebagai penerus garis sebuah keturunan. Itulah sebuah hak tunggal, berupa warisan yang tidak terambil dari tangannya.
Refleksi
- Sungguh, buah-buah itu akan jatuh tidak jauh dari pohonnya.
- Anak dan keturunanmu adalah warisan yang akan diturunkan secara turun-temurun.
- Ingatlah! Sesungguhnya, anak dan keturunanmu adalah orang-orang bagi masa depannya sendiri.
- Mereka boleh berasal dari kamu, namun mereka bukanlah milikimu!
(Kahlil Gibran).
Kediri, 19 November 2025

