Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Apakah makna sentral dari seutas jubah?”
(Memaknakan hidup berdasarkan pengenaan busana ragawi)
Jubah, atau lengkapnya seutas jubah, memang sudah dikenakan oleh manusia sejak zaman dulu dari berbagai suku bangsa.
Mengenakan seutas jubah, memang sudah mentradisi. Bahkan ada yang digunakan sebagai busana harian, sesuai iklim dan keadaan setempat.
Ada yang khusus digunakan di saat-saat mengadakan ritus-ritus keagamaan tertentu.
Ada pula yang dijadikan sebagai simbol keagungan sosok pribadi yang mengenakannya.
Yang tidak kalah tenar, jubah sudah ditradisikan untuk dikenakan di saat para wisudawan/wati di wisuda, sebagai tanda puncak dan akhir masa perkuliahan. Dalam konteks ini, jubah sebagai simbol kesarjanaan.
Juga yang tidak kalah eksis dan aktual hingga kini adalah jubah sebagai simbol kebesaran Raja atau pun sri Ratu.
Di balik itu, sesungguhnya, seutas jubah berfungsi untuk menjaga kesucian diri dari kehinaan, dengan cara menutup aura lahiriah dan batiniah.
Artinya seutas jubah dapat menyimbolkan keugaharian dari pemakainya. Dia pun tidak boleh lagi mencari kemewahan hidup dan terhindar dari keserakahan.
Jubah melenturkan jiwa sang pemakainya untuk menghindari sikap agresivitas, buas, dan suka menyerang orang lain.
Di dalam konteks ini, seutas jubah dianggap berperan untuk menutupi sifat kemanusiaan pemakainya.
Di dalam perjalanan sejarah religius dan historis, tidak sedikit tokoh agung di dalam Kitab Suci dunia, yang justru ‘jatuh terjerembab’, karena seutas jubah yang dikenakannya.
Apakah seutas jubah sekadar simbol penghias raga fana? Tidak! Hal ini dapat dibuktikan dari: Nebukadnezar, tokoh di dalam Alkitab, yang jatuh karena seutas jubah. Raja Alexander Agung pun terjungkal, karena seutas jubah.
Demikian juga Julius Caesar, sang Pemimpin Imperium Romawi. Napoleon Bonaparte, tokoh Perancis, serta diktator Hitler, sang Pemimpin Nazi, Jerman pun bernasib sial karena seutas jubah.
Maka, jubah itu sejatinya adalah seutas busana bermakna mendalam, dan bukan sekadar pembungkus raga fana.
Kediri, 4 Maret 2024

