Di sekitar rumah kami, setiap sore sering ramai dengan anak-anak kecil. Usai main bola kaki atau yang lainnya, ada juga anak yang usil melempar sandal, batu kecil, atau kain kotor ke atap. Kalau berhasil … lantas lari terkekeh-kekeh. Serba salah memang, kalau kita marah pada mereka cenderung akan dijawab: “Namanya juga anak-anak.”
Memang, saat melakukan hal yang keliru, anak-anak biasanya belum mengerti apa yang harus mereka lakukan dan katakan. Bahkan, kadang tidak tahu, bahwa yang mereka lakukan itu salah. Jadi, Ayah Ibunya perlu memberi tahu si Kecil dan mengajarkannya untuk minta maaf, apabila ia melakukan kesalahan. Membela anak dengan mengatakan: “Namanya juga anak-anak” itu tidak ada gunanya, bahkan akan menanamkan kesemuan, seolah benar, tapi salah.
Mengajarkan anak untuk meminta maaf itu perlu dilakukan sejak dini. Walau masih kecil, bukan berarti anak boleh dibiarkan, ketika melakukan kesalahan. Jika dibiarkan, anak jadi tidak pernah tahu apa yang salah dan berpikir, bahwa setiap perbuatannya itu benar.
Nilai-nilai luhur di balik minta maaf adalah kejujuran, sikap tanggung jawab, memelihara relasi, empati, ‘tepa salira’ …
Sambil berlari-lari kecil menghampiri bayinya yang nggembret-nggembret menangis… mungkin, karena haus atau pipis, sang Ibu muda itu berkata, “Maaf sayang… Mama baru menjemur baju, lalu merebus air, dan rendam pakaian kotormu.” Sang anak akan berhenti menangis, sebab ada kontak batin dengan Mamanya yang memang sibuk. Si Kecil akan menyimpan kata ‘maaf’ dalam hatinya dan suatu ketika kata ‘maaf’ itu akan terucap ketika dia sudah mengerti.*
Begitulah si Kecil belajar. Yang kita tabur itu akan tumbuh, berbuah dan dipetiknya.
Salam sehat.
Jlitheng

