| Red-Joss.com | “Sungguhkah hidup kita dekat dengan Tuhan? Apakah seluruh anggota keluarga kita juga dekat dengan Tuhan?”
Yang bisa menjawab kedua pertanyaan ini adalah kita sendiri. Tidak butuh waktu panjang, kita bisa memberikan jawaban. Karena kita yang tahu keadaan sebenarnya keluarga kita.
Usaha kita untuk mendekatkan diri dengan Tuhan bisa dilihat sebagai pengalaman yang unik. Tapi satu dengan yang lain, berbeda prosesnya. Itulah sebabnya, tidak seorang pun boleh ‘menghakimi’ dan ‘menilai’ tentang kedekatan kita dengan Tuhan.
Dari banyak kisah di Kitab Suci, kita bisa melihat betapa sejak awal mula, Tuhan selalu mempunyai kerinduan untuk dekat dengan manusia, ciptaan-Nya.
Di Taman Eden/Firdaus, Tuhan amat dekat dengan Adam dan Hawa. Kita bisa membayangkan, bahwa keduanya menikmati kehangatan relasinya dengan Tuhan. Tapi semua itu berubah, saat keduanya tidak taat dan jatuh dalam dosa. Meskipun manusia jatuh dalam dosa ketidak-taatan, Tuhan tetap setia menyertai dan melindungi. Karena dosa Adam dan Hawa inilah, manusia mempunyai kecenderungan untuk tidak taat kepada Tuhan dan berbuat dosa. Artinya, manusia mempunyai kecenderungan menjauh dari Tuhan. Tapi berbeda dengan Tuhan, Dia selalu mendekat kepada kita. Dia mencari kita yang menjauh dan berusaha untuk ‘bersembunyi’.
Sesungguhnya mudah bagi kita untuk menjauh dan bersembunyi. Tapi ingat, mudah juga bagi Tuhan untuk mencari dan menemukan kita. Jika kita refleksikan lebih dalam, memang keduanya, Tuhan dan kita sudah punya ‘chemistry’ untuk saling dekat.
Lihat Abraham dan Musa yang disebut sebagai “friends of God” (Keluaran 33: 11), Daud disebut sebagai “a man after God’s own heart”, lalu Nuh ditampilkan sebagai pribadi yang mempunyai relasi yang amat hangat-dekat dengan Tuhan. Bahkan Nuh itu mendapatkan kasih karunia di mata Tuhan (Kejadian 6: 8). Itulah Tuhan yang kita miliki, jika dekat dengan kita, segala karunia siap diberikan kepada kita.
Apakah dengan kisah-kisah ini, kita tidak tertarik untuk dekat dengan Tuhan dan membawa seluruh anggota keluarga kita menjadi dekat dengan Tuhan?
Sekarang pasti ada yang bertanya, bagaimana caranya agar kita dekat dengan Tuhan?
Caranya sederhana. Intinya: “Friendship with God is built by sharing all your life experiences with Him”. Kita harus bersahabat dulu dengan Tuhan, lalu bercerita dengan Tuhan, sehingga kita mempunyai relasi yang makin dekat dan akrab. Cukupkah seperti itu? Ternyata ada tuntutan lain, yaitu ada waktu intimasi dengan Tuhan.
Setelah kita berkumpul dan mempunyai waktu bersama keluarga, kita ajak mereka untuk berdoa dan membangun relasi dengan Tuhan. Mulai saja, pasti dengan sendirinya, kita merasakan persahabatan dengan Tuhan yang makin dekat dan akrab.
Pesan dari Kitab Suci sangat jelas agar kita dan keluarga makin dekat dengan Tuhan, yaitu, “Pray all the time – Tetaplah berdoa” (1 Tessalonika 5: 17). Dengan cara semacam ini pula, kita hendak meneladan Keluarga Kudus Nazaret: Yosep, Maria dan Yesus yang menjadi dekat satu sama lain, karena hadirnya Tuhan di tengah-tengah kehidupan mereka. Yesus, Sang Immanuel, telah menjadi tanda yang paling nyata dari kehadiran Tuhan.
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

