Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya: “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh” (Mat 8:8).
Tuhan mengagumi seorang perwira (bukan umat pilihan) melebihi orang-orang Israel (umat pilihan), karena imannya yang besar. Perwira yang merasa tidak layak di hadapan Tuhan, tapi mempunyai iman yang sangat besar, sehingga terjadilah mukjizat penyembuhan terhadap hambanya.
Sebagai orang beriman, ketidaklayakan itu bukan merupakan alasan untuk menjauhkan diri dari Tuhan. Orang seringkali menjauh dari Tuhan, karena merasa tidak layak, juga alasan kelemahan dan dosa-dosanya.
Sejatinya kita dipanggil untuk meneladan sikap si perwira itu. Ketidaklayakannya tidak membuatnya kehilangan iman, tapi makin bertumbuh dalam iman. Dengan rendah hati, penuh iman, dan harapan ia tetap datang kepada Tuhan Yesus dan menyerahkan ‘persoalan hidup’-nya kepada Yesus.
Mari sadari ketidaklayakan kita dengan rendah hati, penuh iman, dan harapan untuk datang kepada Yesus. Kita menyerahkan seluruh persoalan hidup ini kepada-Nya. Dengan demikian, Tuhan akan dapat mengerjakan mukjizat di dalam hidup kita.
Sr. M. Lucyanne, P. Karm
Senin, 02 Desember 2024
Hari Biasa Pekan I Adven
Yes 2: 1-5 atau Yes 4: 2-6 Mzm 122: 1-4.(4-7).8-9 Mat 8: 5-11
Sumber:
Buku renungan harian “Sabda Kehidupan”
http://www.renunganpkarmcse.com

