“Allah meninggikan yang rendah dan memenuhi yang lapar dengan kebaikan.”
Allah mengundang kami mendengarkan dua nyanyian yang lahir dari hati yang rendah dan penuh iman: nyanyian Hana dan Magnificat Maria. Dua perempuan, dua Ibu, dua kisah penyerahan diri, tapi satu karya keselamatan yang Allah rangkai dengan setia sepanjang zaman.
Dalam Injil, Maria melantunkan Magnificat, madah agung pujian kepada Allah: “Jiwaku memuliakan Tuhan.” Seluruh keberadaannya terarah hanya kepada-Nya. Ia tidak mencari kemuliaannya sendiri, sebab Allah tidak membutuhkan apa pun dari manusia. Tapi justru dalam kerendahan dan penyerahan totalnya, Allah meninggikannya dan memenuhi hidupnya dengan kepenuhan rahmat, bahkan hingga ia mengandung Allah sendiri.
Apa yang dinyanyikan Maria, sesungguhnya telah lebih dahulu diwartakan oleh Hana. Seorang Ibu yang menyerahkan anaknya kembali kepada-Nya, Allah sumber kehidupan. Dari rahim yang dahulu mandul, Allah menghadirkan harapan baru. Dari hati yang remuk, Allah melahirkan pujian. Nyanyian Hana dalam 1 Samuel 2 jadi gema awal Magnificat: Allah merendahkan yang congkak, meninggikan yang hina, mengenyangkan yang lapar, dan membangkitkan yang tertindas.
Maria adalah putri sejati Israel. Di dalam dirinya seakan terkandung seluruh sejarah keselamatan. Ia mengenal jalan-Nya, mendengarkan suara-Nya, dan menanggapi-Nya dengan ketaatan penuh sukacita. Digetarkan oleh kabar Malaikat, ia segera bangkit dan berjalan penuh semangat ke pegunungan, tempat Allah selalu memanggil umat-Nya untuk berjumpa dengan-Nya dan jadi terang bagi bangsa-bangsa. Dalam Magnificat, Maria berdiri sebagai Nabi baru, mewartakan dengan jelas dan penuh sukacita, bahwa Mesias telah datang.
Bapa, seluruh sejarah keselamatan dapat dirangkum dalam satu kata: perkenanan-Mu: ‘favor’, rahmat yang sesungguhnya tidak layak kami terima. Inilah alasan sejati Natal. Allah memandang kerendahan hamba-Nya, bukan karena kami pantas, melainkan karena Ia penuh belas kasih. Kami datang kepada-Nya apa adanya: rapuh, lemah, dan berdosa. Tapi justru dalam pengakuan akan kelemahan itulah kami membuka diri agar Allah mengangkat kami dan menjadikan kami sebagai anak-anak-Nya.
Yesus tidak lahir di istana, melainkan di palungan; tempat makanan ternak. Walau Ia itu Allah Maha Kuasa yang kaya, Ia memilih jadi miskin demi memperkaya kami dengan kasih dan keselamatan. Inilah jalan Inkarnasi: Allah merendahkan diri agar manusia diangkat ke dalam kehidupan Ilahi.
Bersama Maria dan Hana, kami bersyukur dan memuji Engkau, ya, Bapa, atas kerahiman-Mu yang tak berkesudahan. Siapkanlah hati kami untuk menyambut kelahiran Putra-Mu dengan kerendahan sejati, iman yang taat, dan sukacita yang murni.
Datanglah, ya Raja segala bangsa, batu penjuru Gereja-Mu.
Selamatkanlah kami, yang Engkau ciptakan dari debu tanah, dan bentuklah kami menjadi bejana rahmat-Mu. Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

