“Pengalaman paling menegangkan dan konyol adalah, ketika kami nyaris diteriaki pedagang roti dikira hendak merampoknya.” -Mas Redjo
…
Biasanya, sebelum survei ke umkm, industri rumahan, saya mencari info ke tukang ojek, nongkrong di pasar tradisional, dan sidak ke warung-warung yang dititipi kerupuk, roti, atau agen makanan ringan. Lalu merunutnya langsung ke pabrik.
Siang itu, sesudah makan di warteg, di depan saya lewat motor gerobak roti. Bergegas UG dan saya naik motor untuk menyusulnya.
UG meminta tukang roti itu untuk menepi, tapi dia melengos dan tidak mau melambatkan motornya.
“Bang… saya mau beli roti!” teriak saya.
Tiba-tiba tukang roti itu membedal motornya kencang, lewat pinggiran pemakaman umum JGL. Di dekat jembatan, motor itu masuk ke rumah yang berpintu besi.
Ketika kami berhenti di depan gerbang itu, beberapa orang laki-laki ke luar dari dalam rumah, di antaranya tukang roti yang kami buntuti tadi.
Dada saya berdesir, karena dari tatapan mata mereka tampak kurang bersahabat dan curiga.
Saya tersenyum, turun dari motor dan menemui mereka.
“Maaf, kami tadi memberhentikan abang roti ini, selain ingin membeli, juga mau tanya lokasi pabriknya. Kami mau menawari plastik ke Bos,” jelas saya sambil mengambil contoh plastik dari dalam tas.
Mereka beradu pandang, dan di antaranya jadi kikuk.
“Itu pun, jika saya diizinkan masuk.”
Mereka beradu pandang, berbicara dengan bahasa daerah yang saya tidak tahu artinya. Tapi akhirnya saya diizinkan masuk menemui Bos pabrik itu, AE.
Dari Bos AE, saya memperoleh penjelasan, ternyata belum lama ini ada seorang pedagang roti yang ditodong preman.
Sekali lagi saya meminta maaf pada Bos AE, karena membuat anak buahnya jadi takut.
Hikmahnya adalah Bos AE jadi pelanggan saya. Bahkan saya juga memasok ke beberapa saudaranya yang lain.
Ternyata Bos AE dan keluarga itu produsen roti rumahan!
…
Mas Redjo

