Apa yang harus dilakukan, jika kita dikatai: kafir? Tersinggung? Marah?
Stop, jangan terbawa emosi dan terpancing ke dalam yang jahat!
Jika itu terjadi pada saya, hanya balasan senyuman termanis dari saya untuk mereka.
Jujur, dari hati yang terdalam saya tidak merasa tersinggung, terhina, atau dihinakan.
Lho? Agama dilecehkan itu harus dibela!
Maaf! Jangan sensian. Untuk apa kita membela Allah yang hidup?! Kita sungguh tidak pantas untuk membela-Nya. Kita ini ciptaanNya, dan bisa apa?
Lalu…?
Ketika dikatai kafir, saya segera diam, merenung, dan mawas diri. Benarkah saya kafir?
Kata kafir, jika dijabarkan membuat saya malu hati.
Kafir itu singkatan dari: “kaya akan firman.” Sudahkan saya kaya firman Tuhan?
Sesungguhnya, ketika orang yang memahami agamanya itu pantang menghina dan menggujat keimanan sesamanya, kecuali mereka itu memahami agama sebatas di kulitnya, tidak menukik ke dalam intinya.
Coba dicermati dengan seksama. Bagaimana dengan perilaku hidup keseharian kita?! Apakah hidup kita sudah sesuai dengan ajaran dan kehendak-Nya?
Sesungguhnya, sebutan kafir itu harus membuat kita mawas diri untuk makin rendah hati. Sekaligus cambuk untuk meningkatkan keimanan agar kita kaya akan firman Tuhan yang menyata dalam hidup baik keseharian kita.
Sesungguhnya pula, inti dari ajaran agama itu agar kita hidup saling mengasihi dan bahagia.
…
Mas Redjo

