Sahabat yang baik …
Lama sekali saya memikirkan semua ini. Saya sungguh tertekan dan tersiksa. Mengapa? Saya harus mengambil keputusan yang berat, sulit, dan tidak saya sukai:
Izinkan Saya Pamit
Saya minta maaf atas segala kesalahan, karena ucapan, sikap, dan perilaku saya yang kurang berkenan di hati.
Barangkali keputusan saya ini salah dan terlalu cepat. Tapi saya harus melakukan, walau berat hati …
Kita bermedsos itu ibarat membentuk sebuah keluarga besar, tempat “asih, asah, dan asuh.”Tempat bercanda dan berbagi, untuk saling mendukung dan mengingatkan satu sama lain. Jika ada suatu postingan atau hal yang menyimpang. Faktanya, apakah kita sungguh peduli terhadap yang lain?
Maaf, sekiranya saya ragu dengan etiket baik para sahabat. Bagaimana tidak. Ketika ada di antara kita yang posting politik, ekonomi, atau candaan itu ditanggapi sinis, miring, bahkan emosi. Tidak sedikit di antara kita yang iri, dengki, muak, dan bahkan benci. Akhirnya saling menyerang dan mempermalukan dengan saling membuka aib yang belum tentu valid, akurat, dan benar.
Apakah kita memahami tujuan bermedsos dalam pertemanan dan persaudaraan ini?
Sesungguhnya kita semua adalah bersaudara agar saling sinergi, mendukung, menguatkan, mengingatkan, dan berbagi suka-duka.
Seharusnya kita mahfum, karena kita mempunyai latar belakang yang berbeda, baik itu budaya, adat, agama, pendidikan, dan sebagainya agar kita sadar diri.
Mengapa kita harus reaktif, mencemooh, sinis, dan saling menyakiti, menyebar kebencian, bahkan membantai postingan yang tidak berkenan. Sekiranya teman itu miskin informasi, ya, tidak perlu dicemooh dan dipermalukan. Postingan langsung itu dibuang, dihapus, dan tidak perlu ditanggapi. Berikan maaf, jika postingan itu hoaks, dan sebagainya.
Ya, sekiranya kita ini peduli untuk saling mengingatkan dan terus mengingatkan tanpa jemu. Lebih baik dijapri pribadi. Bukan diumbar jadi perang terbuka di sosmed, dan hal itu sangat memalukan (maaf)! Hal itu juga mencerminkan pribadi kita yang kurang dewasa, sok tahu, sok pintar, sok hebat, dan mau menang sendiri.
Sekiranya keilmuan kita mumpuni, sudilah berbagi ilmu agar yang lain melek ilmu, wawasan berkembang, dan makin pintar. Sekaligus bagian dari tanggung jawab kita sebagai ilmuwan atau pemikir.
Kita bersosmed, karena kita semua bersaudara. Sekali lagi: jangan pernah saling menyakiti dan menghakimi, tapi saling mengasihi.
Mari kita bijak bersosmed sebagai media ‘asih, asuh, dan asah’ untuk saling menghargai dan menghormati satu dengan lainnya. Jaga etika kesopanan, kesantunan, dan saling mengingatkan dengan semboyan: “Guyon, Guyup, Rukun, Damai, dan Bahagia.”
Harapan saya … bijaklah bersosmed.
Sekali lagi, saya mohon maaf! Malam ini saya terpaksa minta izin untuk tidak aktif dulu, karena mau istirahat.
Berkah Dalem,
Mas Redjo

