“Mentatoo bagian tubuh sebagai peristiwa iman untuk ingatkan diri sendiri agar hidup makin baik dan berkenan bagi Tuhan.” -Mas Redjo
Pangling! Itu kesan pertama saya pada keponakan, W yang tubuhnya makin tinggi melebar, dan dipenuhi tatoo, setelah 6 tahunan tidak muncul ke rumah.
Ternyata W sibuk bekerja. Karena jabatannya meroket, ia dimusuhi oleh atasan lain yang tidak senang. Apalagi di tempatnya bekerja itu adalah perusahaan keluarga dan banyak kerabat Bos.
“Jabatan makin tinggi hempasan anginnya makin kencang itu wajar. Jadi disabar-sabarin, jika muncul konflik kepentingan,” kata saya membesarkan hati W yang sudah berumah tangga dan mempunyai seorang putra. Jika hendak ke luar dan pindah kerja itu harus dirembug baik agar tidak timbul penyesalan di kemudian hari.
Bagi saya, bersabar itu kekuatan iman. Saya juga pernah mengalami hal serupa. Karena Bos besar baik pada saya, beberapa senior tidak senang. Padahal Bos baik itu wajar. Saya yang disain grafis ini sering diminta Bos mendampingi tenaga pemasaran untuk menggoalkan job. Bahkan sering diminta menemui klien sendirian, karena Bos percaya saya.
Meski dimusuhi senior lewat sikap ketus dan sinis, hal itu tidak saya masukkan di hati. Dengan berpikir positif dan berprasangka baik, saya tetap mengasihi mereka untuk mengejawantahkan teladan Tuhan Yesus yang rela berkorban untuk menebus dosa dan menyelamatkan umat-Nya.
Jika keponakan saya, W mentatoo hampir sekujur tubuhnya, karena peristiwa spriritual, sekaligus untuk mengingatkan akan perjuangan imannya agar hidup makin baik.
Sedang bagi saya menghadirkan kasih Tuhan Yesus untuk melukisi hati ini sebagai ungkapan syukur atas karunia kasih-Nya.
Saya ingin meninggalkan jejak di hati sesama, karena meneladani Tuhan Yesus. Berkorban dan ikhlas hati.
Mas Redjo

