Halaman 12 Buku Putih ini saya persembahkan untuk mereka yang telah menunjukkan kisah-kisah luar biasa, sebagai istri untuk suaminya atau suami untuk istrinya yang selama hidupnya membutuhkan dia sebagai tempat bersandar
Setiap kata yang saya tulis ini lahir dari kedalaman makna kasih, pengabdian, dan ketangguhan manusiawi yang saya rekam dari kisah-kisah luar biasa mereka sebagai “pahlawan dalam sunyi”. Dunia mungkin tidak selalu melihat perjuangannya, tetapi Tuhan mencatat setiap helai napas kesabarannya. Lewat tulisan ini saya juga ingin titip doa buat teman kampusku, yang masih muda. Karena sakit, suaminya tidak lagi berdaya, dia tiba-tiba harus memikul peran ganda sebagai kepala keluarga, istri sekaligus Ibu untuk anaknya. Kawanku, percayalah, “Gusti mboten saré.”
“Liturgi Kasih di Tengah Badai”
Sahabatku yang terkasih, di usiamu yang masih muda, Tuhan tidak sedang memintamu berjalan sendirian di bawah terik beban ini. Ketahuilah, bahwa setiap tetes keringatmu saat bekerja dan setiap kelembutan tanganmu saat merawat suamimu adalah doa yang paling nyaring di telinga Tuhan.
Ucapkanlah ini dalam keheningan hatimu: “Tuhan, Engkau tahu bahuku lelah dan jalanku terjal, namun aku memilih untuk bertahan karena aku percaya: tanganku adalah perpanjangan tangan-Mu untuk suamiku, dan kekuatanku adalah perlindungan-Mu bagi anakku. Saat aku tak lagi mampu melangkah, biarlah rahmat-Mu yang menggendongku, karena kesetiaanku di masa sulit ini adalah mahkota kemuliaan yang sedang Engkau tenun untuk kekekalan.”
Ingatlah kawan, engkau tidak hanya sedang bertahan hidup, engkau sedang menuliskan definisi kasih yang paling murni. Jangan takut untuk merasa lemah di hadapan-Nya, karena justru di dalam kelemahanmu, kuasa Tuhan jadi sempurna.”
Salam sehat.
…
Jlitheng

