“Hidup ini Tuhan yang mengatur, kita yang menjalani, dan orang lain yang mengkomentari.” – Rio, Scj
…
| Red-Joss.com | Hidup di era 4.0 dengan jutaan nitizen +62, gegap gempita media sosial, bertaburan info hoax, dan pedasnga nyinyiran. Tapi, jika kita mempunyai pola pikir positif akan berbuah masa depan positif pula.
‘Toxic vibes’ itu makin menggila. Ribuan, bahkan jutaan orang teracuni, pribadi dan identitas manusia pun banyak dikerdilkan dan ditindas. Penindasan dan pembunuhan karakter juga tidak terhindarkan.
Ingat, bagaimana keadaan 5 tahun mendatang itu sangat bergantung dengan siapa kita bergaul, yang kita baca, tonton, dan apa yang kita dengar setiap harinya.
Jika kita ingin jadi orang yang optimis, ya bergaulah dengan orang yang optimis pula. Orang optimis yang berpikir tentang solusi, saling menyemangati, dan tidak mencari kesalahan. Tontonan dan buku-buku yang kita baca juga bersifat pengembangan dan perbaiki diri agar kita makin semangat.
Atasi ‘toxic vibes’ dengan tiga hal:
Pertama: ‘low acceptance’. Ada banyak hal dalam hidup ini yang tidak bisa kita kendalikan. Jadi kendalikanlah respon kita. Meski komentar itu selalu ada, dan nyinyiran akan datang, tapi kita tidak perlu baperan dan pusing dengan komentar orang lain. Lebih bijak kita tebarkan energi dan respon yang positif agar lingkungan sekitar kita makin positif pula.
Kedua: ‘low adaptance’. Kita beradaptasi dengan keadaan sekitar, bukan larut. Carilah peluang untuk tidak menyalahkan. Carilah solusi tidak untuk meratapi, tapi lakukan sesuatu. Ingat dalam hidup ini Tuhan yang menentukan, kita yang menjalani, dan orang lain sibuk mengomentari. Lakukan dan tebarkan kebaikan, maka hal baik pun akan mendatangi kita.
Ketiga: sadari, bahwa kita ini berharga. Yang membuat kita berharga itu tidak karena harta yang dimiliki, pengikut dan banyaknya orang yang menyukai, tapi Tuhan yang menilai kita ini berharga.
Kita tidak harus takut, jika orang di sekitar meninggalkan, melancarkan komentar, nyinyir, dan banyak orang yang tidak suka. Selama hal baik yang kita bagikan, pasti akan mendatangkan berkat dan jadi berkat untuk sesama.
Ingat pesan Tuhan, “Jangan takut. Aku selalu menyertaimu.”
Yakini, bahwa kita tidak sendiri, karena Tuhan selalu menemani.
Deo gratias.
…
Edo/ Rio, Scj

