Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Bagaimana mereka bisa
tumbuh sebagai pribadi
yang jujur, jika
lingkungan mereka
membenarkan
kebiasaan menyontek
dan menganggap suap
sebagai jalan ke luar?”
(Suara Surat Pembaca)
Pendidikan dan Air mata
Jika Paulo Freire sempat berkata, bahwa ujung dari seluruh proses pendidikan kita, justru sebagai ‘pendidikan yang hanya menghasilkan air mata,’ hal itu mau merefleksikan dan mengindikasikan, bahwa finalisasi dari seluruh proses edukasi kita, justru hanya melahirkan penderitaan dan air mata. Secara gamblang mau dikatakan, bahwa ‘ada apa dengan jalannya proses edukasi kita, sehingga justru berakhir dengan setumpuk masalah?’
Praktik Curang dalam Pendidikan
Hasil Survei Penilaian Integritas Pendidikan KPK 2024 jadi tamparan keras bagi kita semua. Skor integritas Pendidikan Nasional turun ke-69,50 dari 73,7 tahun lalu, sebuah tanda besar, bahwa kejujuran belum benar-benar jadi nilai utama dalam dunia pendidikan kita. Demikian konklusi dari Tomi Subhan, Gunung Lagan, Gunung Meriah, Aceh Singkil lewat opininya dalam Surat kepada Redaksi berjudul Praktik Curang dalam Pendidikan. Kompas, Jumat, (9/5/2025).
Dalam paragraf kedua, beliau menulis, bahwa di sekolah dan kampus banyak siswa terlibat praktik menyontek, seolah jadi hal lumrah. Juga tidak sedikit sekolah masih melakukan pungutan liar dalam penerimaan siswa baru, sementara penyalahgunaan dana pendidikan terus terjadi tanpa pengawasan maksimal.
Gambaran suram berperilaku kita kian meresahkan hati, ketika fakta di lapangan membuktikan, bahwa aspek kedisiplinan semakin terkikis, 45 persen siswa dan 84 persen mahasiswa sering terlambat, sementara 96 persen mahasiswa mengaku, bahwa dosen mereka sering absen atau datang terlambat. Ditambahkan pula, bahwa korupsi dana BOS, pungutan liar, dan gratifikasi 28 persen sekolah masih meminta uang tambahan saat PPDB, sedang 30 persen guru atau dosen menerima gratifikasi sebagai hal yang wajar.
Saran Solutif berupa Langkah Nyata
Selanjutnya Tomi Subhan menawarkan sejumlah langkah nyata sebagai solusi demi mengakhiri praktik salah kaprah dalam pendidikan kita. Antara lain:
- Reevaluasi untuk sistem penilaian agar anak tidak hanya fokus pada angka, tapi pada proses belajar yang sesungguhnya.
- Transparansi penggunaan dana pendidikan, agar setiap rupiah bisa diawasi oleh masyarakat.
- Menghentikan praktif gratifikasi, sekecil apa pun bentuknya.
- Mengintegrasikan pendidikan karakter dalam kurikulum, bukan hanya sebagai teori, melainkan sebagai budaya sekolah.
- Melibatkan orangtua dalam pengawasan sekolah agar pendidikan benar-benar jadi urusan bersama.
Setelah kita mencermati dengan saksama isi dari surat pembaca ini, apa komentar serta pandangan saudara?
Pertanyaan Kritis Retoris
Sebuah pertanyaan kritis retoris, “Apa dan mengapa sampai terjadinya aneka ketimpangan dalam praktik pendidikan kita?”
Terkesan, bahwa seluruh arah gerak dari proses pendidikan kita seolah hanya berputar-putar dan meliuk-liuk di tempat dan tidak tahu ke mana arahnya. Ya, inilah sebuah lingkaran setan!
“Jika terus membiarkan praktik curang merajalela, kita tidak hanya merampas masa depan mereka, tapi juga mencetak generasi yang piawai mengakali sistem, bukan memperbaikinya,” demikian Tomi Subhan mengakhir opininya.
Kediri, 11 Mei 2025

