“Cermin, … mana cermin?”
Saya mau mengaca untuk melihat dan menilai diri sendiri sebelum melihat dan menilai yang lain.
Saya mau berbicara tentang hal menghakimi.
“Lepaskan balok kayu dari matamu terlebih dahulu; maka kamu akan melihat dengan jelas untuk menghilangkan serpihan dari mata saudaramu” (Matius 7: 5).
Tidak bisa ditunda-tunda lagi. Tujuannya adalah untuk menjaga supaya mata kita bersih, jernih dan bening.
Selama ini mata kita kotor, tidak jernih, dan gelap. Karena ada balok yang menutup seluruh mata kita.
Padahal untuk membersihkan itu tidak sulit. Jadi sulit, ketika kita menunda. Kita tidak mau dan selama ini kita merasa ok-ok saja.
Begitulah yang terjadi dalam hidup ini. Kita tidak pernah merasa bersalah, karena kesalahan itu ada pada orang lain. Sehingga penghakiman dan penilaian terhadap orang lain itu tidak bisa dihindarkan lagi. Bahkan orang yang tidak bersalah itu juga bisa jadi bersalah, jika terus-menerus dicari kesalahannya.
Orang yang hobi menghakimi, tentu tidak bisa tidur tenang sebelum bisa menghakimi orang lain. Dia jadi puas, ketika bisa menunjukkan dan mempertontonkan kesalahan orang lain. Tanpa sadar, dia sedang menilai dirinya yang paling hebat, bersih dan sempurna.
Faktanya yang terjadi adalah dia itu pecundang. Dia, selama ini telah jadi pemecah-belah dan sumber hidup yang tidak harmonis. Dia pencipta polarisasi.
Cermin, di mana cermin? Aku sudah berkaca dan kaca ini mau kuberikan kepadanya supaya dia bisa bercermin juga.
Tips agar kita tidak mudah menghakimi:
Jika kita ingin merasakan beratnya beban dari orang yang dihakimi, coba rasakan saat kita dihakimi, dituding-tuding dan direndahkan. Hidup jadi tertekan dan berat sekali. Karena itu jangan menghakimi orang lain. Kasihan yang dihakimi. Sesungguhnya kesalahan itu tidak pada dia, tapi pada kita. Karena kita lupa mengeluarkan balok dari mata ini.
Jagalah mulutmu!
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

