“If you judge people, you no time to love them.” – Rio, Scj
…
| Red-Joss.com | Menilai, memberi cap, memberi lebel pada sesama itu mudah. Pasti kita semua pernah me-‘judge’ atau memberi cap pada sesama. Dia itu pelit, pemarah, jahat, bawel, atau pendendam. Dia itu pendiam, tidak asyik, suka menang sendiri, ego, dan ribuan penilaian kita sematkan ke orang lain.
Mudah memang untuk menilai, menghakimi, memberi cap dan nyinyir akan orang lain. Coba deh ‘baper’ – bawa permenungan dikit. Apa yang kita nilai, nyinyiran yang kita berikan, komentar yang kita lontarkan ternyata lebih banyak ada dalam diri kita. Bahkan tudingan dan nyinyiran itu sebenarnya kelemahan diri kita yang tidak selesai kita benahi.
Setiap penilaian buruk pada orang lain, ingatlah sebenarnya itu cermin diri kita sendiri.
Coba amati mulut sendiri. “Tuhan menciptakan mulut di depan agar kita tidak bicara di belakang.” Memang seperti itu realitanya, di depan orangnya kadang kita tidak cukup nyali untuk bicara, tapi di belakang berbusa-busa kata kita umbar.
Stop! Jangan nyinyian dan menghakimi orang lain.
Setiap kita mau menilai buruk orang lain, coba sejenak tarik nafas dan berdoalah untuk mereka dan untuk kita agar kekurangan dan penilaian itu menjadi kesadaran kita.
“Gigitlah lidah ini, bila kita mulai nyinyir, bahkan jika perlu sampai melepuh dan terluka, sehinga susah lagi untuk bicara,” begitu pesan Paus Fransiskus.
Sadarlah kata-kata itu doa. Tapi kata-kata itu bisa jadi malapetaka untuk diri sendiri. Semakin sering hal yang buruk ke luar dari mulut kita, sebenarnya kita sedang mengeluarkan perbendaharaan yang buruk pula dari dalam hati kita. Sebaliknya semakin banyak kebaikan, kejujuran, dan kasih keluar dari mulut kita, berarti kita sedang membagikan berkat dan mengeluarkan perbendaharaan kasih dari dalam hati kita, itulah ‘golden mouth’ – mulut emas.
Berhati-hatilah dengan mulut dan jarimu.
Deo gratias.
…
Edo/Rio, Scj

