Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
Red-Joss.com – “Lidahmu / mulutmu adalah harimaumu.”
Lidah sang manusia, walau hanya organ kecil tubuh, namun sanggup menjungkirbalikan kehidupan.
Lidah sang manusia ibarat mesin yang sanggup membelokan sebuah kapal raksasa.
Manusia di sepanjang zaman dan di mana pun sering dihimbau untuk senantiasa menjaga lidahnya, menjaga mulutnya, agar lebih arif berlisan.
Banyak kepahitan, sakit hati, permusuhan, dan sengketa, yang justru bermula dari lancang tutur, keseleo lidah, salah ngomong, alias ngawur bertutur.
Banyak pribadi tersakiti akibat dari tuturan sesamanya yang tidak mampu mengendalikan lidahnya.
Saudara, agar sang manusia pandai menjaga lidahnya, tidaklah dibutuhkan pendidikan khusus.
Setiap tuturan yang tercetus dan terbuang ke angkasa raya akan bebas terbang dan bebas disadap dan didengar oleh jutaan telinga, dan tentu akan berdampak.
Syukurlah, jika tuturan Anda dan saya itu adalah sebuah pujian kepada sesama. Jika itu sebuah kutukan serta hinaan atau pun fitnahan, tentu akan berekses kekacauan.
Saya, teringat akan jitunya nasihat seorang saleh kepada seseorang yang doyan menyebarkan fitnah.
Kata sang saleh, “Fitnahanmu itu, bagai seseorang yang asyik mencabuti lalu membuang ke udara bulu-bulu ayam yang dicabutnya, dia akan terbang ke mana pun.” Dan selanjutnya, “Anda, tidak sanggup lagi untuk menghimpun kembali setiap helai bulu yang telah mengangkasa itu.โ
Artinya, kabar bohong alias fitnahan keji yang disebarkan itu, akan segera menyebar, dan pada saat yang sama Anda tak sanggup untuk mengendalikannya.
Berita berbau busuk itu telah menyebar serta menyeruak dan sanggup meracuni setiap hati serta daun telinga sang manusia yang mendengarnya.
Alangkah keji serta bengisnya tindakan sang manusia yang tidak arif bertutur.
Maka, adagium, “mulutmu adalah harimaumu,” dapat dipertajam, “mulutmu adalah pedangmu.”
Sesungguhnya, dalam konteks ini,
mulut Anda dan saya pun, seketika bagai sang pembunuh berdarah dingin!
…
Kediri,ย 25ย Januariย 2023

