| Red-Joss.com | Kita terkagum-kagum dengan cara Tuhan Yesus memilih murid. Hal ini sangat berbeda dengan cara si jahat. Jika si jahat senang sekali mengambil yang sudah indah dan menghancurkannya, sedang Tuhan Yesus mengambil yang hancur dan membuatnya jadi indah menawan.
Coba lihat Lewi yang pemungut cukai dengan citra yang buruk itu. Hidupnya tidak bersih, kotor, dan dia dicap sebagai orang yang berdosa. Itulah cara manusia dalam mengadili sesamanya. Jika tidak suka, bencinya luar biasa. Sehingga terjadi yang namanya pembunuhan karakter.
Berbeda sekali dengan cara Tuhan Yesus. Pada diri Lewi yang dicap sebagai orang berdosa itu, Tuhan Yesus melihat mutiara yang indah memancar dari hatinya. Mutiara itu adalah sosok pribadi yang menarik. Dia dipilih jadi murid, rasul, dan pewarta. Sebuah lompatan yang tidak bisa dibayangkan oleh orang-orang yang telah membunuh karakternya itu.
Orang-orang yang biasanya hanya mengandalkan mulutnya untuk menghakimi. Tapi Tuhan Yesus memiliki ketajaman mata sebelum mengundang Lewi, bahkan Dia duduk makan bersama Lewi dan teman-temannya.
Tidak ada kata-kata penghakiman dari Tuhan Yesus, sebaliknya ada kata-kata undangan yang indah, yaitu “Mari, ikutlah Aku!”
Jaga mulut ini sebelum berkata-kata. Jangan menghancurkan hidup orang lain dengan kata-kata yang sembarangan. Jangan asal menilai dan ikut-ikutan menghakimi. Alangkah bijak, jika kita mau belajar dan meneladani Tuhan Yesus. Bagaimana cara menuntun pribadi yang hidup terpuruk, tapi kemudian bangkit kembali. Lewi yang pendosa itu kemudian dikenal sebagai Matius.
…
Rm. Petrus Santoso SCJ
…
Foto Ilustrasi: Istimewa

