Oleh Fr. M. Christoforus, BHK
Red-Joss.com | Masih ingatkah Saudara, akan kisah seseorang yang sangat “erat menggenggam sekeping koin” di dalam genggamannya?
Itu, koin masa lalunya. Itu, koin kepahitan dan kehancuran hidupnya. Itu, sekeping koin, yang sangat mematikan, bak seteguk racun bagi masa depannya.
Dia saat itu, laksana seseorang yang tetap memikul beban di pundaknya, walaupun dia sudah berada di atas sebuah kendaraan yang melaju kencang.
Manusia, ya, sang manusia itu, kadangkala dia bertindak laksana segumpal raksasa “gunung es.” Karena yang tampak jelas di atas permukaan samudera biru, hanya 10 persen, sedangkan yang ke – 90 persen, justru terbenam di dasar samudera.
Ya, sang manusia itu, makhluk yang sukar ditebak, siapakah sang dia sesungguhnya. Karena, ketika sang dia berkata, ‘aku mau,’ dapat saja bermakna, sebaliknya, justru, ‘aku tidak sudi.’ Tidak semua ekspresi segurat wajah tersungging senyum, itu melambangkan sekeping wajah riang. Dapat saja, itu sekadar berbasa-basi dan mungkin juga sekadar berkamuflase.
Sang manusia adalah makhluk misterius, sulit ditebak. Dia, makhluk multidimensional, karena dia memiliki banyak sudut dan seginya, di sana ada ruang-ruang hampa gelap senyap yang dapat saja sungguh menakutkan sesama yang di sampingnya.
Di sinilah letaknya keunikan, dan bahkan mungkin ‘dicap’ sebagai ‘keanehan’ oleh sesama manusia di sampingnya.
Maka, segera lepaskanlah. Biarkan imajinasi sejatimu bersayap. Biarkanlah ketulusan hatimu, dapat berbunga dan berbuah. Relakanlah juga, roh kejujuranmu bertumbuh laksana sebatang pohon.
Maka, sekali lagi, sudi lepaskanlah Saudaraku! Lepaskanlah erat katup genggamanmu, dan biarkan dirimu beranjak pergi menuju masa depanmu.
Hanya seekor burung berpatah sayap, yang akan nyaman bertengger di sepotong dedahan nan rapuh. Namun, setiap burung bersayap utuh, akan bebas terbang di angkasa imajinasinya, melayang-layang di atas langit biru kehendaknya.
Saudara, bagaimana seorang manusia dapat berbahagia, ketika dia senantiasa terikat pada masa lalunya?
Sang kebijaksanaan justru mengajarkan, jika sang manusia itu merindukan sekeping kebahagiaan, maka, segera lepaskanlah genggaman tanganmu.
Ketika dunia sibuk mengumpulkan harta serta keagungan sekeping nama, maka, sang kebijaksanaan, justru mengajarkan kita untuk sudi melepaskan.
…
Kediri, 24 Februari 2023

