“Jangan takut menuliskan kisah perjalanan dalam lembar buku kehidupan.” -Rio, Scj.
Selembar kertas, kalau hanya dikosongkan itu tidak mempunyai nilai apa-apa. Kertas yang sama di tangan anak kecil itu jadi coretan, di tangan pelajar jadi catatan, di tangan pebisnis jadi kontrak, dan di tangan pihak pembuat uang jadi nilai tukar. Singkatnya di tangan yang tepat selembar kertas itu bisa mengubah dan memberi manfaat banyak orang.
Hidup ini juga seperti kertas. Saat hidup terasa kosong dan sia-sia, itu tanda kita enggan menuliskan sesuatu pada lembaran sejarah hidup kita.
Jika kita maunya menuliskan yang mudah dan enak-enak, itu tanda kita seperti anak kecil yang hanya coret-coret tanpa arah dan tujuan yang jelas. Akhirnya hidup pun susah, bila kita maunya yang mudah-mudah.
Jika saat ini hidup terasa sulit dan berat. Ambil waktu sejenak. Waktu untuk merangkai kata bermakna. Waktu untuk melihat nilai dan berkat dari peristiwa pahit. Tuliskan saja meski dengan derai air mata. Suatu saat lembaran itu akan jadi mutiara yang membuat kita bangga, bahwa kita telah melewatinya.
Bila saat ini lembaran kertas penuh keringat, karena perjuangan dan kerja keras. Tuliskan saja dengan keringatmu. Keringat yang menetes itu tanda kita bertumbuh jadi sukses. Suatu saat keringat itu akan diubah jadi berkat.
Bila saat ini hidup terasa penuh berkat, tuliskan dengan hati penuh syukur. Bahwa semua keberhasilan dan sukses ini tidak lepas dari campur tangan Tuhan yang harus juga dibagikan. Mungkin saat kita ikhlas berbagi itu orang tidak menyadari, bahkan malah membenci, tapi suatu saat nanti akan menginspirasi.
Bila saat ini kita sudah tidak berdaya, karena usia, tuliskan lembaran hidup itu dengan kasih dan doa. Doa untuk anak cucu dan cicit. Doa syukur untuk sejarah hidup yang boleh kita tuliskan. Doa tetap kuat dalam iman agar saatnya nanti Tuhan memanggil kita siap untuk bersama-Nya dalam Surga. Lengkap sudah sejarah hidup yang kita tuliskan dalam lembaran kehidupan.
Deo gratias.
Rm RP Rio, Scj

