“Lelahmu telah membuat banyak umat berbahagia.”
(Siti)
…
Red-Joss.com – Kalimat di atas adalah ucapan seorang ibu sepuh bernama ‘Siti’, singkatan dari ‘Sigaraning Ati’ atau belahan jiwa dari seorang suami yang sudah (almarhum), yang pernah berlelah-lelah melewati jalan susah untuk membawakan khabar baik bagi sesama.
“Salam pagi bapak. Saya pun kagum melihat gereja yang indah dan megah itu, walau saya belum dapat langsung melihat fisiknya, sebab saya misa secara online. Air mata membasah di pipi ini saat ingat almarhum. Jika beliau sempat melihat, pasti bangga dan bahagia, sebab mimpinya jadi nyata: “gereja berdiri megah dan membanggakan. Tapi saya percaya, dari surga beliau berbahagia, melihat banyak umat yang pernah dilayaninya kini bahagia. Saya juga percaya, para romo dan awam yang dulu melayani dan kini telah tiada pasti bahagia juga.” Siti
“Terima kasih Tuhan Yesus dan matur suksma para penggiat pembangunan yang tak lelah bekerja siang dan malam, nunjang-palang, dengan semua daya demi lahirnya identitas lahiriah paguyuban iman yakni Gereja.”
Terima kasih Romo Lam dan Romo Mateus, yang dengan ilmu “fortiter in re suaviter in modo” telah berhasil menjadi konduktor yang dahsyat, seperti pasangan Musa dan Harun, sanggup membelah laut yang dalam dan bergelora, membuka jalan menghimpun kekuatan berupa (hati yang rela untuk berbakti: daya, doa, dana, raga, dan waktu) – demi Kerajaan Allah.
Di balik keberhasilan suami ‘pasti ada ‘Siti’ yang hebat. Di balik sukses gembala, pasti banyak domba yang rela ‘nunjang palang, ora nduwe wudel’, melakukan apa saja yang dibutuhkan paguyuban seperti panitia, doa Novena, ngamen, sujud-tahajud di malam hari.
Saya dapat menyebut nama, tapi saya memilih menulis nama mereka di sini (tangan kanan saya memegang dada kiri, di sana terletak jantung yang berdetak) – yang kan kuingat seiring detaknya.
“Lelahmu telah menebus rindu dan melahirkan bagi semua, bahagia yang bukan berasal dari dunia ini.”
Sebuah prasasti hati yang amat pantas untuk melukiskan betapa besar bakti kasih tanpa lelah dari almarhum para Romo dan awam, bersama semua umat, yang dengan khas telah menata dasar-dasar gereja seutuhnya, baik fisik maupun umat.
Pada bagian akhir tulisan ini, perlu kita tulis kalimat kunci, yang “melukiskan bukti sejarah hidup Sanberna,” sebagai gereja pengembara, 33 tahun lamanya:
Fakta: sebagai Paguyuban Umat beriman, Sanberna bisa hidup ‘Tanpa Gedung’, akan tetapi ‘Tanpa Saling Melayani’ Sanberna sudah mati. Maka layanilah satu sama lain.
Selalu bertekad jadi sarana berkat.
…
Jlitheng

