| Red-Joss.com | Hari terakhir temu keluarga pekan lalu, saya sempat berbincang dengan ipar yang terdera lelah rohani begitu dalam. Sampai ia mengalami tidak bisa tidur panjang yang amat menyiksa.
Dengan hati terpana saya dengar dan rasakan betapa tidak mudah apa yang dialaminya.
Sesekali saya menyela, saat ia pasti sedang di masa yang amat sulit atau saat yang amat menyakitkan. Ia seperti merasa sendiri. Ia tidak ingin ada yang tahu atau tidak seorang pun mengetahui masalah itu.
Mungkin ia merasa ada sesuatu yang berat dan membuatnya tersiksa karenanya. Sehingga semua terasa amat sukar yang membuat Tuhan seakan tak peduli, bahkan tidak ada.
Lalu ia mulai bertanya, “Di mana Engkau, Tuhan saat aku mengalami beban berat begini?”
“Mengapa aku memikul beban seberat ini Tuhan? Apakah Engkau masih ingat dan peduli padaku?”
Atau mungkin juga ia sudah akan mengatakan: “Aku sudah lelah Tuhan. Aku capek. Aku sudah tak sanggup lagi, Tuhan.”
Ia mungkin sudah tak ingin percaya pada apa pun dan siapa pun, juga kepada-Nya.
Ia seperti sedang merasakan ‘lelah rohani’ yang menyiksa. Lelah rohani adalah lelah yang disebabkan oleh hilangnya keinginan atau berkurangnya kekuatan berpikir, sehingga tidak dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan yang menuntut kekuatan jiwa untuk menyelesaikannya.
Bersyukur, karena ia ditopang oleh istri yang setia. Saya tahu ia tidak pandai berkata-kata, tapi istrinya sangat pandai menimbang rasa dan berbagi derita. Itulah keuntungan baginya.
Istri dan anak-anaknya, saya yakini telah menghadirkan kepedulian Tuhan dengan mengatakan: “Datanglah kepada-Ku kalian yang letih dan berbenan berat, Aku akan melegakan kamu.”
Salam sehat dan penuh percaya.
…
Jlitheng

