| Red-Joss.com | Ada kisah nyata: anak kelas 2 SD sedang sewot, tiba-tiba emosi marahnya meledak-ledak tanpa sebab. Ia memukul dan menendang benda sekitar, juga dirinya sendiri. Guru sudah kewalahan.
Biasanya pawangnya (ahli bina rasa) dipanggil. Ia masuk lalu anak itu diruket dari belakang sambil dibisiki, “Kamu marah ya?”
Ia diajak ke luar kelas, lalu duduk. “Silahkan rasakan marahmu sampai puas, tapi jangan menyakiti.” Beberapa menit berlalu … “Sudah? Ya…? Sekarang mau apa? Belajar lagi. Mau dipeluk?”
Ia mengangguk-angguk sambil nangis. Setelah diberi pelukan, lalu masuk kelas. Yang dibutuhkan empati, bukan pemecahan masalah untuk anak-anak baru gede.
Gejala seperti dalam kisah itu disebut ‘tantrum’ atau ledakan emosi. Anak-anak terkadang mengalaminya. Lazimnya ditandai dengan menangis, menjerit, teriak, dan menolak segala upaya orang lain untuk menenangkan.
‘Tantrum’ terjadi, karena anak belum dapat mengomunikasikan kebutuhan dan perasaannya. Akibatnya mereka frustrasi. Anak yang lebih besar juga bisa mengalami tantrum.
“Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu” (Amsal 22: 6)
Seksi Kerasulan Keluarga dapat memfalisitasi keluarga muda untuk menjalankan tuntunan Amsal itu.
Anak sehat keluarga sehat, kalau besar menjadi berkat.
…
Jlitheng

