Mat. 11: 16-19
“Sering terjadi, bahwa mata kita pura-pura buta melihat segumpal kotoran yang ada di dalam diri sendiri, tapi sangat tajam menemukan setitik debu yang melekat pada tubuh sesama.”
Itulah yang dilakukan oleh orang-orang zaman Yesus, yang lebih suka mengkritik orang lain sampai lupa memperbaiki kesalahan dan memperbaiki diri sendiri. Yesus berkata: “Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan mereka berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Tetapi hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatannya” (ayat 16).
Berdasarkan pada firman hari ini maka:
1) Sadarlah, bahwa setiap orang termasuk kita memiliki kekurangan dan kesalahan;
2) Memperbaiki kesalahan dan mengoreksi diri sendiri lebih dahulu adalah cara mengkritik orang lain yang paling jitu, karena di sinilah keteladanan hidup lebih berbicara lantang daripada kritik yang tajam;
3) Lakukanlah kritik dengan cara elegan tanpa harus mempermalukan orang lain, juga tidak di hadapan banyak orang, melainkan lakukan dengan penuh persaudaraan.
Ingatlah, bahwa kebencian dan iri hati hanya akan melahirkan sebuah kritik yang melukai mereka yang dikritik.
…
Monsignor RD Inno Ngutra

