| Red-Joss.com | “Berani menerima kenyataan pahit dengan penuh syukur itu membuat kita jadi tangguh, dan itu anugerah Allah. Dengan melihat hikmat Allah agar kita rendah hati.”
Belajar memahami anak-anak itu yang saya tekankan pada istri agar kami sebagai orangtua berbesar hati untuk menerima kenyataan. Bahwa anak-anak mempunyai kehidupan sendiri. Cepat atau lambat, kami akan berpisah dengan mereka. Kami harus berani melepas semua itu dan mengikhlaskannya.
“Tapi omongan orang itu, Mas,” kilah istri.
“Ya, tidak usah ditanggapi, karena tidak ada habisnya. Mereka tidak tahu keadaan kita. Lebih baik disenyumi. Dengan pahami mereka, kita tidak ada beban.”
‘Sawang sinawang’, kita cenderung melihat orang lain lewat tampilan, tidak pada isinya. Bahkan banyak di antara kita menilai dan menghakimi sesama dengan kacamata sendiri.
Padahal, sesungguhnya saya tidak mau merepotkan anak. Prinsip saya adalah, selama pekerjaan itu dapat dikerjakan sendiri, ya, dilakukan. Semampunya dan seselesainya. Sekali lagi, selain saya tidak mau merepotkan orang lain dan tanpa beban.
Saya sering menjumpai orang bule yang umurnya lebih tua dari saya yang melakukan perjalanan antar benua. Mereka mandiri dan hepi. Mereka bisa melakukan sendiri, saya juga harus bisa.
Sebagai orangtua, kami sangat bahagia, ketika anak-anak peduli dan perhatian pada kami. Tidak lewat pemberian barang dan jatah bulanan dari mereka. Tapi lewat sikap dan perilaku mereka.
Jika mereka tidak bisa menemani atau mengantar kami, karena kesibukan, mereka meminta maaf. Sehingga kami harus tahu diri untuk menyesuaikan waktu dengan mereka.
Ketimbang minta dipahami anak, lebih bijak kami yang memahami anak agar tidak timbul konflik, salah paham, dan sakit hati.
Mengalah untuk memahami orang lain agar kita berbesar hati, sabar, dan ikhlas itulah sesungguhnya tujuan hidup.
Hidup untuk memberi, karena Allah murah hati.
…
Mas Redjo

