| Red-Joss.com | Berani karena benar, salah karena takut. Itu prinsip pribadi orang yang jujur dan hebat. Sebaliknya, jika kita benar tapi takut, atau salah tapi berani. Kenapa ini terjadi?
Coba lihat berita yang viral di tv, medsos, atau (maaf) bisa jadi kita adalah pelakunya sendiri.
Tidak harus kaget. Menutup-nutupi atau mengingkari fakta itu.
Saatnya, kita mawas diri dan berani bersikap jujur. Mengapa kita harus bersumpah palsu?
Banyak faktor yang membuat kita berani bersumpah palsu. Di antaranya, kita lebih takut miskin, ketimbang takut akan Allah. Sehingga kita menyalah-gunakan sumpah jabatan atau wewenang itu untuk memperkaya diri.
Karena keluarga diancam, diteror, atau takut dipecat, jika kita bersikap jujur mengungkap fakta kebenaran dari suatu peristiwa, tindak pidana, atau korupsi yang dilakukan secara berjamaah. Sehingga kita memilih diam, yang penting aman.
Bisa jadi pula, kita berbuat salah tapi tidak takut terhadap siapa pun, termasuk pada penegak hukum. Karena kaya raya, kita dibekingi oleh kekuasaan, pejabat, dan banyak pihak yang siap membela. Sehingga kita makin sombong untuk membeli kebenaran itu.
Coba rasakan dan bandingkan, saat kita berlaku jujur dan berbuat curang. Apakah kita merasa aman dan tentram, atau kita tertekan dan dikejar ketakutan?
Ketika berbuat benar, kita tidak harus takut. Meskipun keluarga diteror, atau kita diancam untuk dilenyapkan. Sebagai orang beriman, kita harus teguh dalam kebenaran. “Karena imanmu akan menyelamatkanmu.” Allah yang Maha Kuasa adalah penolong dan jaminan hidup kita. Sehingga kita menjadi aman dan tentram dalam lindungan-Nya.
Sebaliknya, ketika kita berbuat salah dan curang. Jiwa ini tidak tenang dan kita dikejar oleh ketakutan. Sehebat dan sekuat apa pun kekuasaan yang melindungi kita, cepat atau lambat pasti kalah. Serapi-rapinya kita menutupi kecurangan, pasti akan terungkap. Begitu pula, ketika kebenaran itu dipasung atau dibungkam, ia akan menemukan jalannya untuk menjadi terang benderang.
Tiada guna bersumpah palsu demi dunia, karena hidup bakal ternista dan menderita. Tapi, dengan berani karena benar dan demi iman pada Allah, hidup kita tentram dan bahagia.
…
Mas Redjo
…
Foto ilustrasi: Istimewa

