“Big journeys begin with the small steps.” – Rio, Scj.
…
Bicara soal ‘traffic light’ saya mempunyai cerita.
Suatu hari Joni naik taksi, tapi sopir itu amat sangat pemberani. Saat lampu merah bukannya berhenti malah tancap gas untuk menerobos lampu merah itu. Melihat aksi nekat si sopir taksi, Joni marah. Mendengar ocehan si Joni, sopir malah bilang, “Tenang saja Pak, kakak saya juga sopir taksi dan selalu merobos lampu merah sampai sekarang tidak apa-apa”.
Di perempatan berikutnya, sopir itu kembali menerobos lampu merah. Joni makin emosi, ” Pak sopir, saya ingatkan lagi, jangan lakukan hal berbahaya ini!”
“Tenang saja, Pak. Kakak saya selalu terobos lampu merah enggak apa-apa kok,” sahut sopir itu enteng.
Pada perempatan jalan berikutnya giliran lampu hijau yang menyala, Joni lega. Eh, sopir itu malah menginjak rem dan berhenti.
“Lho, lampu hijau kok berhenti.”
“Ya, Pak. Saya takut kakak saya lewat dari sebelah sana,” sahut sopir itu.
Hidup kita kadang seperti kisah tadi. Hal baik yang kita harapkan, tapi kebiasaan buruk yang kita lakukan. Bila hal buruk yang biasa kita lakukan suatu saat pasti kita akan celaka, dipermalukan, dan hidup kita tanpa tujuan. Karena itu biasakan kita untuk melakukan hal baik, maka keadaan baik akan mendatangi kita.
Menurut Aristoteles kebaikan dan kebahagiaan itu bergantung pada diri sendiri. Artinya, kita dituntut untuk mencari kebahagiaan kita sendiri, dan tidak bergantung pada orang lain. Karena orang yang paling menderita adalah orang yang menggantungkan kebahagiaannya pada orang lain.
Mari kita menebar kebaikan apa pun yang terjadi. Tuhan memberi berkat dan mujizat untuk orang yang mempunyai tekad berbuat baik.
Deo gratias.
…
Edo/Rio, Scj

