| Red-Joss.com | Untuk yang kesekian kali saya ragu. Apakah saya harus rehat sejenak, mematikan, atau meneruskan blog pribadi itu.
Saya berada di simpang jalan. Saya disodori beberapa pilihan dilematis. Rehat berarti blog saya vacum dan ditinggalkan pembaca. Mematikan berarti saya tidak komitmen dengan misi awal, dan usaha yang saya rintis itu sia-sia. Meneruskan berarti saya membiarkan usaha keluarga makin menurun drastis.
Membenahi usaha yang menurun drastis, karena ekonomi melambat atau fokus mengurus blog pribadi yang sekadar untuk berbagi.
Jujur, hal itu yang membuat saya ragu dan bimbang. Ketika membuat blog itu tujuan utama saya untuk berbagi hal baik dan positif. Berbagi motivasi atau inspirasi, semoga manfaat. Modal utama saya adalah semangat. Beruntung ada sahabat yang membantu untuk mengadmini.
Awalnya saya menulis dan mengisi blog itu sendiri. Usaha saya untuk mengajak teman berpartisipasi itu tidak membawa hasil. Alasannya, blog itu sedikit peminat, tak ada yang diharapkan, dan non profit. Berbeda dengan ‘podcast’ yang banyak diminati, keren, dan wow!
Ketika di simpang jalan itu, saya ditemukan dengan sahabat, di antaranya rohaniawan dan semisi: “Diutus untuk bersaksi.” Bagai botol ketemu tutupnya, dan klop!
Semula dari 2-3 tulisan perhari, kini menjadi 6-8 tulisan yang rutin. Meski masalah blog telah teratasi dan melegakan, tapi tidak dengan dunia usaha. Resesi ekonomi dan resesi pembeli itu membuat banyak sektor usaha gonjang goanjing.
Sesungguhnya, saya ingin terjun kembali untuk membenahi usaha keluarga, mendatangi pelanggan lama atau baru. Sedang bisnis online yang dijalankan oleh anak belum menampakkan hasil.
Tiba-tiba saya seperti diingatkan dan disadarkan dengan peristiwa lama, ketika saya memulai bisnis. Dari modal usaha yang minim, bekerja keras, dan hasil yang tidak memadai. Anehnya saya seperti ‘kesirep’ alias tidak sadar, sehingga mau menjalani usaha itu.
Disusul kejadian mustahil yang memutarbalikkan logika manusia. “Jika Allah hendak memberi, siapa mampu menolaknya?”
Saya tidak harus khawatir dengan masa depan dan rezeki anak. Tidak seharusnya pula saya menyekoki mereka dengan kemudahan agar mereka mandiri dan bertanggung jawab.
“Saatnya saya menikmati hidup ini dengan berbagi,” pikir saya untuk menenangkan hati.
Mukjizat yang dianugerahkan Allah kepada saya dan keluarga teramat luar biasa. Tidak seharusnya saya khawatirkan masa depan anak. Saya juga harus fokus menyiapkan masa depan sendiri untuk kembali pada Sang Pencipta.
“Lakukanlah semua itu bukan untuk dunia, melainkan demi Aku. Untuk dunia, kau bakal kecewa. Tapi demi Aku adalah kepastian dan masa depanmu.”
Kata-kata itu menggedor hati saya, membuat saya sadar sesadarnya.
Sesungguhnya saya diuji tidak demi hasil akhir, tapi untuk setia kepada Allah. Setia pada rencana dan kehendak-Nya.
Saya makin mantap. Saya telah diberi Allah secara cuma-cuma agar saya memberi pada sesama juga secara cuma-cuma.
…
Mas Redjo
…
Foto Ilustrasi: Istimewa

