| Red-Joss.com | Laku prihatin itu jalan kesadaran jiwa, bahwa hidup ini singkat agar dimanfaatkan untuk hal-hal yang mendatangkan berkat.
Laku prihatin itu jalan kesadaran pikiran dan hati yang harus dihidupi sepanjang hari sebagai kebiasaan baik. Bahwa hidup ini sebagai ungkapan pujian dan syukur kita atas anugerah Allah yang luar biasa.
Laku prihatin itu sesungguhnya mengajar, melatih, membiasakan, dan mendisiplinkan kita untuk berani menerima kenyataan hidup ini dengan rendah hati.
Ketika laku prihatin sebagai jalan hidup, kita makin ditempa untuk menjadi pribadi yang tenang, sabar, tabah, dan murah hati.
Ketika disodori peristiwa hidup, kita tidak mudah reaktif untuk berontak atau menolak, tapi menyikapi hal itu dengan pikiran jernih dan hati yang bening.
Selalu bertanya pada nurani sendiri adalah ciri khas sikap pelaku hidup prihatin sebelum bertindak dan mengambil keputusan penting. Ia selalu membiasakan diri mohon penyertaan dan bimbingan Allah agar diberi yang terbaik.
Ia juga tidak mengada-ada demi gengsi, karena jalan hidup yang ditekuninya adalah kebersahajaan, jujur, dan rendah hati.
Ketika pribadi yang laku prihatin itu diuji oleh kesuksesan hidup, ia tidak kagetan, sombong, dan lupa diri. Sebaliknya ia makin rendah hati untuk tulus berbagi pada sesama.
Begitu pula saat ia diuji oleh tantangan hidup yang berat dan sulit. Ia tidak berkelit, mundur, atau menyerah. Karena kebiasaan laku prihatin itu telah menempanya menjadi pribadi yang cekatan, ulet, tanggguh, dan tahan uji. Sehingga ia selalu percaya diri bakal mampu melewati semua itu.
Sesungguhnya, ketika kita mampu menjalani laku prihatin sepanjang hidup, kita ibarat samudra dalam yang tenang dan tak beriak, meski dihempas badai nan dahsyat.
Laku prihatin adalah ketenangan jiwa untuk “manungguling kawulo Gusti.” Berserah ikhlas pada kehendak Allah.
…
Mas Redjo

