Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
Red-Joss.com – “Jadilah seperti semut, yang mampu setia, seiring, dan sejalan.”
“Berbahu membahulah kamu, laksana semut.”
Seorang guru agama pagi hari, meletakkan sepotong roti tepat di bawah sebatang pohon beringin di halaman sebuah sekolah dasar (SD).
Pukul O9. 00 pagi, saat jam pelajaran agama, sang guru inspiratif itu mengajak sejumlah kecil murid kelas tiga SD ke bawah sebatang pohon beringin.
Tampak wajah sejumlah murid yang agak heran, mengapa mereka harus menuju ke bawah pohon beringin di saat pelajaran agama?
Sang guru, dengan wajah dan suara tenang dan berwibawa, mengajak para muridnya untuk tekun tulus mencermati semut-semut merah yang tampak beriring memanjati batang pohon beringin itu.
“Para muridku yang setia, kini, kalian dipersilakan untuk setia mencermati semut-semut ini.”
“Apa yang sedang mereka lakukan?”
“Bagaimana pola tingkah mereka, saat melakukan pekerjaan?”
“Tuliskan jawabanmu, dan nanti, semua murid akan melaporkan hasil pengamatanmu!”
Tiga puluh menit berlalu, para murid itu, sudah kembali ke ruang kelas dengan wajah ceria.
Lalu, dengan wajah santai namun sangat berwibawa, sang guru pun berkata:
“Kini, laporkan hasil pengamatanmu!”
“Saya kagum, Pak, karena semut-semut itu selalu bersama dan membawa makanan di mulutnya.”
“Saya melihat, hal yang lucu, karena mereka selalu bersalaman saat bertemu!”
Setelah semua jawaban para murid dihimpun, sang guru bersama para murid pun menyimpulkan sejumlah hasil temuan para murid.
Pertama, para semut itu, selalu bersama, dan seiring.
Kedua, para semut itu, besar pun kecil, setia membawa makanan di mulutnya.
Ketiga, saat berpapasan, para semut itu, selalu saling menyapa.
Lima belas menit, sebelum berakhirnya pelajaran, sang guru menugaskan para murid untuk menuliskan “sebuah doa” sebagai konklusi dari hasil pelajaran mereka.
“Tuhan, yang Mahasetia, Sang Pencipta alam semesta serta manusia dan semut-semut. Hari ini, betapa terharu hatiku, memandang kesetiaan, kebersamaan, serta sifat gotong royong para semut merah itu. Saya pun merindukan serta mendambakan, alangkah bahagianya kami, jika di rumahku, di sekolahku, di kelasku, bahkan di dalam negaraku, kami mampu hidup rukun guyub laksana para semut merah itu. Namun, Tuhan, yang kualami kini, justru laksana “jauh panggang dari api.” Kami saling mencerca, suka mencari kelemahan sesama, saling menjegal dan menjatuhkan.
Semoga, Tuhan sudi membimbing kami, agar mampu bertingkah pola, laksana para semut merah itu, Amen.
…
Kediri, 15ย Februariย 2023

