Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Ia rela menerangi dunia
sambil melelehkan dirinya sendiri.”
(Didaktika Hidup Sejati)
Pengaruh dari Sebatang Lilin Mungil
Ada sebatang lilin nan mungil yang sedang bernyala itu diletakkan di tengah-tengah padang gurun nan gulita. Walaupun sinarnya tidak sanggup menerangi seluruh alam sekitarnya, tapi sungguh, betapa besar pengaruh positifnya bagi makhluk hidup yang berada di sekitarnya. Setidaknya, bahwa sudah ada tanda-tanda kehidupan di sekitarnya.
Bukankah sebentuk kehidupan yang bermakna itu adalah cara hidup yang bermanfaat bagi dunia? Sebentuk cara hidup yang dipersembahkan bagi sesama di sekitarnya.
Sebatang Lilin sebagai Simbol Persembahan Diri
Lilin, sebatang lilin bernyala itu sebagai simbol dari sebentuk persembahan diri kepada dunia. Persembahan yang ikhlas dan bermakna rohani spiritual.
Ada pun simbol-simbol bermakna itu adalah :
- Sebatang lilin telah memberikan terang cahayanya demi menerangi alam sekitarnya.
- Sebatang lilin telah rela dan ikhlas untuk luluh serta melelehkan dirinya hingga ke titik akhir. Artinya, ia telah mempersembahkan dirinya hingga habis dengan tanpa syarat.
Bagaimanakah dengan Anda?
Sebagai makhluk sosial, apakah Anda rela mempersembahkan diri kepada dan demi sesama? Sanggupkah Anda untuk melakoninya tanpa syarat?
Bukankah sudah ada tokoh agung yang telah rela memberikan diri demi kebahagiaan sesama? Dalam konteks keikhlasan itu, sesungguhnya ia telah mempersembahkan dirinya sendiri.
Bunda Theresa adalah Contoh Konkretnya
Bunda Theresa, Biarawati dari Ordo Cinta kasih, yang kini sudah bergelar Santa, misalnya. Ia adalah contoh yang paling konkret di abad ke-21 ini. Ia bahkan rela untuk melepaskan ikatan kebiarawatiaannya dengan Ordo lamanya, hanya demi mewujudkan cita-cita mulianya untuk mempersembahkan dirinya secara total kepada orang-orang yang paling miskin dan sekarat di bumi India.
Bukankah dalam wujud ekspresi untuk melakoni panggilan kebiarawatiaannya itu selaku hamba dari kaum miskin dan dina papa, ia telah rela untuk mengorbankan dirinya?
Konkretnya, lewat pelayanan primanya, ia telah memberikan seberkas cahaya pengharapan di dalam hati kaum miskin dan dina papa.
Bukankah lewat kesedehanaannya, dengan cara melupakan diri, ia sudi melelehkan dirinya hingga tiba ajalnya? Di dalam kesadaran penuh dan jiwa kesatria sejati, ia telah benar-benar jadi laksana sebatang lilin, di dalam totalitas melakoni panggilan hidupnya.
Ya, itulah sebuah spirit dan filosofi dari sebatang lilin kecil di dalam panggilan hidup kita.
Kediri, 12 Agustus 2025

