Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Hiduplah laksana garam yang serba secukupnya saja.”
(Prinsip Budaya Bangsa)
Garam, Kata paling Favorit
“Garam,” tak pelak telah jadi sebuah kata emas di dalam budaya dan peradaban bangsa kita. Bahkan di dalam konteks keagamaan kata garam itu telah kian favorit.
Berikut bukti tingginya penggunaan kata garam di dalam tuturan atau tata ibadat keagamaan dan sosial kemasyatakatan.
- “Jadilah garam dan terang dunia” (bidang keagamaan).
- “Nikmatilah dan rasakan asam garam kehidupan ini” (bidang sosial kemasyarakatan).
Petuah Arif Kakek
“Hiduplah secukupnya saja, laksana garam,” demikian petuah arif dari Kakek. Bukankah petuah ini juga mewakili budaya dan keberadaan masyarakat bangsa kita?
Petuah nan arif ini mau mengajar dan mendidik kita, bahwa di dalam hidup ini, baik secara personal atau sebagai warga kolektif dari sebuah bangsa, agar senantiasa menyadari keberadaan kita. Kita juga diajak agar mampu mengendalikan diri lewat cara hidup hemat dan berugahari.
Kita Melupakan Pesan Moral Kakek
Lewat sebuah pertanyaan retoris, saya mengajak kita untuk turut berpikir bersama. “Masih setiakah kita untuk memegang teguh pesan moral dari Kakek?” Ataukah pesan keprihatinan Kakek itu, kini ibaratnya bagai ‘jauh panggang dari api,’ alias sudah tidak bergaung lagi? Mengapa justru terjadi demikian?
“Kita, kini seolah-olah telah kehilangan jati diri, sebagai anak-anak dari sebuah bangsa yang hidup beradab dan berkeprihatinan ini. Mengapa justru dikatakan demikian?
Ibaratnya kacang yang telah melupakan kulit, dan sekeping lidah yang memang licik dan tak bertulang, anak-anak bangsa ini, justru telah jadi kian: nanar liar, bermuka dua, gila hormat, lupa daratan, gila pangkat pun harta, dan kelewat ambisius dalam hidup ini. Mereka telah terjerembab sangat jauh dan berkubang di dalam lumpur kenyamanan semu.
Di sana, mereka benar-benar telah kehilangan pegangan hidup, jati diri, dan identitas sebagai anak dari sebuah bangsa yang beradab.
Fakta-fakta Brutal Kini
Maka, pada hari-hari ini, sebagai bangsa, kita benar-benar sedang tidak baik-baik saja. Kita sedang sakit segalanya. Kita pun telah berubah haluan jadi anak-anak durhaka: dengan mengerupsi, memanipulasi, sikap fanatik dan intoleran, serta kekanak-kanakan.
Inilah wajah sejati dari anak-anak durhaka ini. Kata sang arifin, “Mau ditaruh di mana sekeping wajah kita ini?” Ya, sejujurnya, bahwa kita sungguh-sungguh sudah tidak mempunyai rasa malu.
Dari Mata Turun ke Otak dari Otak Meracuni Hati
Dari mana datangnya virus maha ganas ini? Apakah datangnya dari mata, lalu turun ke otak, dan dari otak, lalu meracuni hati?
Ya, bukankah, bahwa segala sesuatu itu, justru bersumber dari dalam hati sang manusia?
Jika memang sudah demikian, maka cita-cita jadi bangsa besar yang beradab dan terhormat, justru kian jauh dari cita-cita luhur bangsa kita.
Bukankah, semuanya ini, justru karena kita telah melupakan petuah Kakek?
“Jadilah laksana garam, yang senantiasa serba cukup!”
Kediri, 29 Juli 2025

