Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Anda akan dihadang risiko, jika Anda berani membangunkan singa tidur.”
(Peribahasa)
…
| Red-Joss.com | Ada sejumlah idiom yang bermakna mirip atau agak serupa, antara lain:
“Jangan membangunkan singa/anjing tidur.”
“Laksana duri dalam daging.”
“Laksana bara api dalam sekam.”
“Bagaikan menggunting dalam lipatan.”
“Jika main api, maka akan terbakar, dan main air, akan basah.”
Bom Waktu
Kelima (5) buah idiom tertulis di atas mau mendeskripsikan, bahwa sejatinya, di dalam diri seorang anak manusia, terdapat kekuatan dasyat yang sesekali waktu dapat meledak, jika disenggol atau diganggu. Sikap/emosi ke-aku-an yang berbau rasis (rasisme).
Tulisan ini untuk mengingatkan kembali akan tragedi rasisme yang terjadi di Inggris belum lama ini (2024).
Seperti sebuah tulisan yang terdapat di dalam kolom Internasional, harian Kompas, Minggu, (11/8/2024), berjudul, “Bara dalam Sekam Rasisme Inggris.”
Inggris (Eropa), sudah dikenal sebagai suatu komunitas masyarakat yang sangat rasional dan mampu menghargai perbedaan dalam berbagai aspek kehidupan. Bukankah mereka menganut paham liberalis, yang lebih cenderung untuk dapat menerima dan menghargai suatu perbedaan?
Fakta Historis
Dalam ziarah hidup dan peradapan umat manusia di dalam aneka bidang kehidupan, tak jarang kita berhadapan dengan sebuah realitas bernuansa rasisme ini.
Ada-ada saja ledakan berupa gesekan terbuka antar sesama, baik dalam hidup berbangsa dan bernegara, juga dalam kehidupan sosial, keagamaan, dan etnis.
Saya teringat akan pahitnya hidup di zaman perbudakan di belahan dunia tertentu atau antiras, terorisme, dan genosida (holocaust), yang justru hingga kini dapat meledak kembali jika disulut.
Manusia : Makhluk Sosial pun Individul
Antara: Homo homini lupus est dan homo homini socius est
Masih ingatkah kita akan adagium mondial dari filsuf Thomas Hobbes?
Bahwa, manusia itu dapat jadi ganas nanar bagaikan seekor serigala lapar bagi orang lain? (homo homini lupus est)
Bahwa manusia dalam memenuhi aneka kepentingannya, dia tidak segan untuk berkonflik dengan orang lain. Bahkan dia juga tidak segan untuk rela menumpahkan darah.
Itulah “bara dalam sekam,” dari kehidupan ini. Itulah kekuatan dasyat ego yang kapan saja dapat meledak, jika diganggu.
Mari kita, pupuk dan bangun komunitas kemanusiaan dari dalam lubuk hati terdalam. Lewat ketulusan dan kejujuran sejati.
Mari kita terus berupaya membangun kultur, “homo homini socius est,” bahwa kita adalah sesama bagi orang lain!
“Damai tenteram bagi setiap hati yang berkehendak baik!”
…
Kediri, 12 Agustus 2024

