“Laki-laki tampak gagah, ganteng nan mempesona itu, karena huruf L, kalau nggak jadi Aki-aki.” -Rio, Scj.
…
Pengamatan sederhana ini mungkin sedikit menggerakkan kita. Pernah nggak kita berpikir, kenapa di tempat makan pinggir jalan atau warteg yang harga makanannya hanya Rp10.000 per bungkus itu kebanyakan yang membeli laki-laki. Sementara di tempat minuman mahal yang harganya mungkin mencapai 30.000 ke atas kebanyakan yang antri itu perempuan.
Bukan berarti perempuan lebih kaya dan mempunyai uang lebih banyak. Laki-laki lebih memikirkan banyak hal daripada hanya sekadar makan enak dan mewah. Bagi laki-laki makan itu yang penting kenyang. Coba bayangkan laki-laki di usia 30 sampai 40 tahun, mereka hanya memakai baju sederhana dan bahkan pakaiannya itu-itu saja. Bukan karena tidak mau atau tidak tahu bergaya, melainkan dia memikirkan banyak beban dan tanggung jawab dari sekadar gaya.
Bangun tidur yang dipikirkan adalah orangtuanya yang makin hari kian menua. Masa depan anak-anaknya, kebutuhan keluarga dan juga istrinya. Ia menjaga perasaan istrinya. Begitu pula saat hendak tidur dia harus memikirkan esok hari, bagaimana caranya untuk membuat semua anggota keluarga bahagia. Berat dan capek kan, itu sudah jelas, tapi laki-laki hampir tidak pernah mengeluhkannya.
Coba lihat kenyataan ini, bila seorang perempuan, dia makan sendiri di pinggir jalan. 10 dari 9 laki-laki akan iba melihatnya. Tapi kalau laki-laki yang makan sendiri di pinggir jalan 9 dari 10 orang wanita justru meremehkannya. Saat laki-laki membeli gorengan, karena lapar. Tapi coba perempuan membeli gorengan, kata mereka lagi jajan. Apa pun alasannya laki-laki selalu salah dan tempat salah.
Diakui atau tidak, satu-satunya perempuan yang akan tetap peduli keadaan laki-laki itu hanya Ibunya sendiri. Ketika banyak orang memandang sebelah mata, ketika mereka tidak mempunyai apa-apa, dan dianggap sampah, Ibulah yang melihatnya sebagai seorang laki-laki yang sangat berharga.
Ini bukan membela laki-laki, toh banyak pula keluarga hancur, istri kecewa, dan anak-anak menderita karena laki-laki. Begitu pula di balik sukses pria juga peran perempuan begitu besar. Karenanya bahagiakan yang layak kita bahagiakan, hargai yang layak kita hargai, bantulah yang layak kita bantu.
Deo gratias.
…
Rm RP Rio, Scj

