Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Tidak Takut Lambat, tapi Takut bila Tidak Bergerak.”
(Peribahasa China)
Amanat Agung di Balik Kisah Spesial Ini
“Betapa mulianya, jika Anda memiliki ketekunan dan sikap tidak mudah menyerah dalam meraih cita-cita hidup!”
Inilah Kisahnya!
Suatu hari, beredarlah kabar indah di antara para penghuni hutan tentang adanya sebuah taman Surga untuk para binatang.
Ada Labi-labi pincang yang tak mau menyia-nyiakan kabar indah itu. Maka, bergegaslah ia untuk mencari tempat itu. Sekalipun dia sungguh tahu, bahwa usahanya itu bukanlah sesuatu yang mudah.
Dalam perjalanannya, ia sempat bertemu dengan sekawanan kuda yang sedang asyik merumput. Melihat betapa gairahnya si pincang berjalan, maka bertanyalah seekor kuda kepadanya, “He, hendak ke mana kamu?”
“Oh ya, saya hendak mendaki bukit, menuruni ngarai, dan berjalan jauh menuju taman Surga untuk para binatang.”
“Apakah Anda sungguh-sungguh tahu di mana tempatnya?”
“Oh ya, di sana, di sebuah bukit di ujung dunia,” jelas si pincang Labi-labi itu.
Diam-diam, ternyata kawanan kuda lamban itu tertarik juga untuk mencari Surga yang dihebohkan itu.
Kini mereka berkumpul untuk bermusyawarah, berpikir kian panjang lebar, dan bahkan hingga bertengkar hebat.
Kuda yang pertama menyarankan, jika hendak ke sana agar melewati rute sebelah Barat. Tapi kuda kedua menentangnya. Menurut logikanya, akan lebih efisien, jika melewati jalur sebelah Timur. Kuda ketiga, lain lagi, disarankannya agar untuk lebih praktis, jika melewati jalur Utara saja. Akhirnya mereka terus bertengkar dan masing-masing kuda mempertahankan pendapatnya sendiri. Sehingga tidak ada kesepakatan di antara mereka.
Kini Labi-labi itu telah menemukan taman Surga yang ramai dikabarkan itu. Ia dengan gembira melahap rerumputan hijau nan segar itu sendiri.
Hingga sekian lama, si pincang itu tidak pernah melihat seekor kuda pun yang berada di sana.
(The Best of Chinese Wisdoms)
Siapakah Kita di Balik Kisah Inspiratif Ini?
Apakah kita ini adalah simbolisasi dari si pincang Labi-labi, yang bertekad baja membara, ataukah kita hanyalah sekawanan kuda tolol yang hanya andalkan isi kepala kerdil semata?
Bukankah semua permasalahan hidup umat manusia itu, justru bertolak dari kedegilan, ketololan, keangkuhan, dan atas nama sebuah gengsi murahan?
Refleksi
- Bukankah sang kebijaksanaan telah mengajarkan kita, bahwa “tidak perlu larut dalam rasa khawatir, sekalipun perjalanan Anda itu jauh dan tak pasti. Tapi, yang perlu dikuatirkan ialah justru, jika Anda hanya diam berada di tempat!”
- Semestinya kita perlu lebih cepat bergerak, rela untuk berkorban, dan bahkan bisa sampai berdarah-darah, demi meraih sebuah tujuan, bukan?
- Cinta sejati, adalah kebijaksanaan yang selalu tulus untuk berdarah-darah. Karena bukankah cinta adalah sebuah kekuatan paling dasyat yang bergerak secepat kilat menuju sasaran sesuai impiannya?
- Seperti sebuah pepatah Cina berikut ini, bahwa “Jika Anda tidak mau mengorbankan yang kecil, maka Anda pun tidak pernah bisa mendapatkan sesuatu yang lebih besar!”
Jangan-jangan, kita ini adalah simbolisasi dari sekawanan kuda tolol itu?
Jika memang demikian adanya, ah ternyata hingga kini, kita ini adalah bangsa yang masih setia merangkak di landasan pacu yang sama.
Ya, entah hingga kapankah itu, saudara?
Kediri, 27 Januari 2026

