“Kejujuran adalah kunci kebahagiaan.” – Rio, Scj.
Kita tidak bisa menentukan seperti apa kita dilahirkan, tapi kita bisa menentukan cara terbaik untuk menjalani kehidupan ini.
“Kenapa kita berbeda dan tidak seperti mereka? Kenapa kita tidak seperti yang mereka harapkan? Apa salah kita?”
Kejujuran itu kunci kebahagiaan. Jujur pada diri sendiri, orang lain, dan jujur kepada Tuhan. Jujur itu sulit. Mungkin kita takut jadi bahan pembicaraan, direndahkan, dan dikucilkan. Tapi rasa takut yang kita bayangkan itu ternyata lebih besar dari kenyataan. Takut itu wajar, tapi ketakutan itu tidak mengubah keadaan. Tidak ada yang jauh lebih baik daripada sebuah kejujuran.
Ketika kita jujur, di awal mungkin bisa membuat perasaan kita dan orang lain hancur. Hancur karena mungkin belum mengerti, apalagi memahami. Tapi setidaknya kita telah membuktikan kepada diri sendiri, bahwa kita adalah pemberani dan punya hati nurani.
Masalah dalam diri bukan untuk dibiarkan, tapi untuk dicari, ditemukan, dan selesaikan. Apa itu yang menjadi akar permasalahan. Setiap orang mempunyai perasaan dan penilaian. Tapi hanya orang yang menjalani yang bisa merasakan.
Mungkin saat bersikap jujur kita merasa sendirian, karena tidak ada yang mengerti dan memahami. Tapi hanya kita sendiri yang tahu dan memberikan ketenangan batin kita. Sekalipun ada penolakkan yang membuat kita terluka, tapi bebaskan diri dan biarkan diri ini merdeka.
Memang setiap pilihan itu mempunyai konsekuensi. Begitu juga dengan kejujuran. Siapkah kita? Yakinkah kita dengan semua pilihan dan keputusan itu?
Alangkah bijak, jika sebelum bertindak kita pikirkan lebih dulu alasannya, kenapa kita ingin melakukan itu. Ketika banyak orang mencibir pada kita dan tidak setuju, kita tidak boleh mundur, tapi terus melangkah maju. Selama kita yakin dengan pendirian yang benar dan dituju, Tuhan pasti menunjukan jalan bagi kita. Ingat selalu, bahwa kejujuran itu kunci kebahagiaan.
Deo gratias.
Edo/Rio,Scj

