“Kubangun rumah. Kuketuk pintu sendiri.” -Ags Arya Dipayana
Tiba-tiba di penghunjung tahun ini, saya diingatkan dan disadarkan oleh sahabat (alm) Ags Arya Dipayana lewat puisinya itu.
“Apa yang sudah saya capai dan peroleh dalam hidup, hingga hari ini?”
Hati ini langsung bergejolak diaduk-aduk berbagai perasaan. Membuat dada ini menyesak, sakit, dan nyeri.
Ternyata yang dibangun selama ini tidak lain adalah saya ini pemburu gengsi, materi, ambisi, pengakuan, dan kehormatan. Hingga tanpa sadar, saya hobi menjual diri.
Hidup untuk memburu dan mengumpulkan matre, karena saya tidak mau hidup susah dan miskin.
Hidup untuk mencari pengakuan, karena saya senang berpesta di hotel dan pelesiran ke luar negeri, lalu memposting semua aktivitas itu di sosmed, supaya berjuta mulut berdecak kagum, dan wow!
Hidup untuk dipuji dan dihormati, karena saya berpangkat tinggi dan dermawan yang murah hati. Lihat, tiada hari tanpa berita di sosmed dan tv tentang kebaikan hati saya.
Hidup untuk menginspirasi dan memotivasi, karena saya pebisnis ulang dan mempunyai banyak perusahaan. Dari zero, saya sulap jadi hero agar sepak terjang saya diikuti berjuta orang.
Untuk mewujudkan diinginkan itu, saya tidak segan melawan dan bermusuhan dengan mereka yang membatasi, mengkritisi, atau memasung gerak kreativitas saya; termasuk dalam hal berkesenian. Bukankah kita bebas berekspresi dan mengemukakan pendapat?
“Apakah hidup ini sekadar mencari dan memburu nikmat atau gebyar dunia, sehingga mata hati ini jadi silau dan buta?”
Pertanyaan itu melesat ibarat sebutir kesadaran yang jatuh di keheningan telaga hati saya.
Ternyata disadari dan diakui, atau tidak, sejatinya kita senang ‘ben-diarani’, ketimbang sadar diri untuk miliki pribadi yang rendah hati.
Kita senang dan sok “rumangsa bisa, ketimbang bisaa rumangsa.” Kita sok pintar dan hebat, sehingga kehilangan adab. Kita mudah melihat kesalahan dan keburukan orang lain, ketimbang kesalahan sendiri. Akibatnya, nila setitik rusak susu sebelanga. Kita tidak mau melihat kebaikan masa lalu orang lain. Kita juga mudah menyalahkan dan menghakiminya.
Padahal Tuhan Yesus mengajarkan pada kita untuk saling mengasihi. Bahkan, IA mengampuni, mengasihi dan mendoakan mereka yang menyalibkan-Nya.
Saatnya kita sadar untuk memulai hidup baru dengan membiasakan dan disiplin diri untuk membuka hati serta introspeksi. Kita menghidupi teladan kasih Tuhan dalam keseharian.
“Lakukan semua pekerjaanmu itu dalam kasih” (1 Korintus 16:14).
Tuhan memberkati.
…
Mas Redjo

