Kusandarkan kepalaku sejenak. Kupejamkan kedua mataku untuk melihat keberadaanku. Kurasakan setiap tarikan nafasku. Kuterima semua yang sudah kujalani selama ini.
Tempatku bersandar itu tidak di tempat yang kudus, mewah, atau tempat yang asing. Tempatku bersandar sekarang ini adalah tempat di mana aku biasanya berdoa dan mengucap syukur.
Kubersandar dengan melihat Bapa-ku yang sungguh amat baik.
Kubersandar dengan melihat Yesus-ku yang telah memilihku, karena Dia tahu aku pantas untuk menjadi seorang Imam.
Kubersandar dengan merasakan hadirnya Roh Kudus yang setiap hari menuntunku untuk mengikuti Roh yang benar.
Kubersandar dengan memandang Bunda Maria yang telah memberikan contoh bagiku, supaya aku setia dengan yang sudah aku janjikan.
Kubersandar, karena aku sadar, bahwa kehidupan yang sudah dijalani ini memberikan penegasan tentang hidup didasarkan pada iman yang benar.
Iman yang benar itu adalah iman yang memberikan pemahaman kepadamu tentang Allah yang adalah kasih.
Itulah sebabnya, saat diriku bersandar dan merasakan setiap tarikan nafas itu yang kurasakan adalah kehadiran Allah yang adalah kasih. Kasih-Nya itu membalut tubuh, jiwa, dan rohku dengan satu kata ini: damai!
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

