| Red-Joss.com | Kusandarkan kepalaku sejenak. Kupejamkan kedua mataku untuk melihat keberadaanku. Kurasakan setiap tarikan nafasku. Kuterima semua yang sudah kujalani selama ini dalam keheningan.
Tempatku bersandar ini bukan di tempat yang kudus. Bukan di tempat yang mewah. Juga bukan tempat yang asing. Melainkan tempat di mana aku biasa berdoa dan mengucap syukur.
Kubersandar dengan melihat Bapaku yang sungguh amat baik.
Kubersandar dengan melihat Yesusku yang telah memilihku, karena Dia tahu aku pantas untuk menjadi seorang imam.
Kubersandar dengan merasakan hadirnya Roh Kudus yang setiap hari menuntunku untuk mengikuti Roh yang benar.
Kubersandar dengan memandang Bunda Maria yang telah memberikan contoh bagiku, supaya aku setia dengan yang aku janjikan pada Yesus.
Kubersandar, karena aku sadar, bahwa kehidupan yang sudah dijalani ini memberikan penegasan tentang hidup didasarkan pada iman yang benar.
Iman yang benar itu adalah iman yang memberikan pemahaman kepada kita tentang Allah yang adalah kasih.
Itulah sebabnya, saat diriku bersandar dan merasakan setiap tarikan nafas itu yang kurasakan adalah kehadiran Allah yang adalah kasih. Kasih-Nya membalut tubuh, jiwa dan rohku dengan satu kata ini: Damai!
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

