Injil Lukas mengisahkan orang yang kerasukan setan secara unik. Pertama, kerasukan setan itu terjadi di rumah ibadat dan pada hari Sabat. Kita dapat bertanya, bagaimana di tempat suci, orang berdoa, mendengarkan firman dan menyembah Tuhan itu masih ada kuasa setan di sana? Bukankah tempat ibadah adalah tempat yang paling aman, karena Tuhan hadir di sana? Bukankan hari Sabat adalah hari yang dikuduskan untuk Allah?
Kisah ini menunjukkan, bahwa setan tidak hanya hadir di tempat-tempat yang angker, tapi bisa hadir dan menunjukkan dirinya dalam rumah ibadah; tidak hanya pada malam Jumat Kliwon (menurut perhitungan orang Jawa), tapi juga pada hari Sabat.
Kedua, mengapa bisa memanifestasikan diri? Kejadian seperti ini kadang dijumpai, ketika kita sedang mengikuti retret. Firman Tuhan mengusik hati orang dan kuasa kegelapan tidak tahan, lalu mengungkapkan dirinya. Dalam kondisi wajar, tampaknya kita baik-baik saja, ketika kita berbuat dosa. Ketika Sabda Tuhan bergema di hati, sabda-Nya itu membersihkan hati dan pikiran kita dari kuasa kegelapan.
Ketiga, kita disadarkan, bahwa ternyata setan juga mengenal Yesus sebagai “Yang Kudus dari Allah”. Sementara orang-orang yang di sekitar itu mungkin hanya mengenal Yesus sebagai orang Nazaret. Perbedaan mendasar antara setan dan kita adalah, bahwa setan mengenal Yesus, tapi tidak beriman kepada-Nya. Sementara kita berada dalam proses untuk terus mengenal Dia dan mengimani-Nya sebagai Guru dan Tuhan.
Di balik ketiga keunikan ini, yang terpenting adalah Yesus tidak membiarkan setan berbicara dan mengusirnya dari diri orang ini. Tuhan menggunakan kuasa untuk mengusir setan dan membersihkan orang dari kuasanya. Kuasa Tuhan mengatasi segala tempat suci dan hari suci. Artinya, Yesuslah tempat di mana kuasa kegelapan tidak berkuasa dan kuasa setan dikalahkan.
“Ya, Bapa, semoga kami dikuatkan dalam melawan pengaruh dan kuasa kegelapan yang menyerang kehidupan kami saat ini. Amin.”
Ziarah Batin

